Liputan Kegiatan
Yogyakarta, tgl. 27 Maret 2003 ---
CATATAN
DARI RAKERNAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN
Pada
tanggal 27 Maret di kantor (Pusat Studi Ekonomi Pancasila) PUSTEP UGM
berlangsung diskusi menarik tentang Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan
Mikro (GEMA PKM) atas inisiatif aktivis LSM, Bambang Ismawan dkk., karena
mereka berpendapat bahwa di DIY gerakan ini belum begitu “menggema”.
Tentu saja anggapan mereka tidak seluruhnya benar __
sebagaimana terungkap dalam diskusi dua jam yang dimulai pada pukul 7
malam itu, dan dihadiri oleh berbagai stakeholder dari
lingkungan pemda propinsi dan kabupaten/kota se DIY, maupun kalangan
swasta, ilmuwan, dan perbankan __ karena baik pemerintah maupun
masyarakat Yogyakarta telah melaksanakan gerakan pengembangan keuangan
mikro tanpa harus menggembar-gemborkan diri telah melaksanakannya. Dalam
diskusi itu terungkap antara lain berbagai upaya dari pemda Bantul yang
Bupatinya sangat peduli pada pangembangan keuangan mikro, dan juga wakil
dari Pemerintah Daerah Kulon progo, yang telah merancang berbagai
kebijakan melalui Perda untuk mengembangkan keuangan mikro. Di samping
itu, program-program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan di DIY dan
di Bali dikenal senantiasa menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi di
lapangan, karena masyarakatnya peduli terhadap hal-hal yang terjadi di
sekitarnya.
Pada
siang hari dan tanggal yang sama, di gedung JEC Yogyakarta, juga
berlangsung acara penutupan rakernas dua hari penanggulangan kemiskinan,
yang difasilitasi oleh pemerintah pusat melalui Komite Penanggulangan
Kemiskinan. Hadir dalam acara itu empat orang menteri dan tidak kurang
dari 600 orang peserta, yang sebagian besar merupakan pejabat-pejabat di
lingkungan propinsi, kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Seorang aktivis
LSM yang hadir dalam acara tersebut dan hadir dalam diskusi di PUSTEP
mengemukakan kesannya tentang rakernas. Ia mengeluhkan tentang tidak unsur
masyarakat dalam acara akbar tersebut, sehingga sangat mungkin acara
tersebut tidak akan membuahkan hasil yang maksimal.
Pola
“pejabatisme” inilah yang selama ini banyak menimbulkan
ketidakselarasan di dalam pelaksanaan program pengembangan keuangan mikro
dan program penanggulangan kemiskinan pada umumnya. Berbagai hal
menyangkut kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh pelaku keuangan mikro
tidak terungkap dalam forum tersebut. Berbagai persoalan masyarakat
terlalu banyak didekati dengan pendekatan atas bawah (top-down approach).
Tentu masalah bagaimana mengalokasikan dana trilyunan rupiah merupakan
masalah yang cukup penting dibicarakan, tetapi apakah uang itu akan sampai
kepada mereka yang ditargetkan adalah masalah yang lebih penting. Tanpa
mencermati berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, berbagai program
penanggulangan kemiskinan akan menyimpang dari sasaran.
Drs. Puthut Indroyono,
Asisten Peneliti Pusat Studi Ekonomi Pancasila
(PUSTEP-UGM)
|