Liputan Kegiatan
Jakarta, tgl. 23 April 2003 ---
WORKSHOP
DAN TOT LEARNING ORGANIZATION SYSTEM THINKING
Di tengah mainstream pemikiran yang bersifat linier, terkotak-kotak dan sangat
dipengaruhi positivisme, Lembaga Administrasi Negara (LAN)
menyelenggarakan workshop yang justru mencoba keluar dari “jerat” itu.
Workshop itu dinamakan “Learning Organization System Thinking” (LOST),
dan diadakan pada tanggal 23 April 2003. Acara tersebut dibuka oleh Ketua
LAN sendiri dan Sekretaris Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK), serta
dihadiri sejumlah pejabat teras dari Kementerian Kesra, Bapenas, maupun
berbagai departemen yang lain. Kegiatan tersebut merupakan awal dari
penyelenggaraan “Training of Trainers Learning Organization System
Thinking” yang diselenggarakan 28 April – 3 Mei 2003.
Pendidikan yang terspesialisasi
(terkotakkan) pada disiplin ilmu tertentu, acapkali justru
“memenjarakan” kita melihat persoalan secara parsial, sehingga
pemecahannya pun bersifat parsial pula yang dipengaruhi background
dan asumsi yang selama dipelajari. Akibatnya, seringkali pemecahan yang
diberikan tidak memecahkan persoalan sepenuhnya, bahkan seringkali
menambah atau menimbulkan persoalan yang lain. Hal itu disebabkan, yang
dipecahkan merupakan gejala-gejala persoalan (persoalan yang nampak) dan
bukan akar persoalan, sehingga pemecahan itu acapkali shifting
the burden (memindahkan persoalan kepada yang lain). Padahal persoalan
timbul, disebabkan berbagai permasalahan lain yang terkadang sangat
kompleks kait-mengkaitnya.
System thinking merupakan sebuah metodologi atau alat yang memberikan
pemahaman untuk menelusuri kompleksitas jaring-jaring persoalan yang kait
mengkait dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Dengan melihat
persoalan secara holistik, akan memberikan semacam “kearifan” (wisdom)
akibat dipahaminya wawasan yang menyeluruh persoalan dengan berbagai
dimensinya. Dengan demikian bila telah dipahami kerumitan keterkaitannya,
maka solusi dalam memecahkan akar persoalan atau determinan faktornya (driving
forces), sehingga dapat menjawab persoalan yang sebenarnya.
Salah satu yang menarik dari acara
tersebut adalah adanya semacam “enlightenment”
melalui pemahaman mental model, yang akan melumerkan pembatasan
yang kita ciptakan pada diri kita sendiri. Sebab, akibat pembatasan yang
kita kreasi sendiri itu, achievement
yang kita hasilkan pun sesuai pembatasan diri kita sendiri itu pula.
Meskipun, kita sebenarnya bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar
dari pada “kerangkeng” yang kita ciptakan pada diri sendiri. Oleh
sebab itu perubahan harus dimulai dari dalam, dari diri kita sendiri dulu,
kemudian baru perubahan dan energi positif itu kita transformasikan kepada
yang lain.
Demikianlah, workshop dan TOT
tersebut setidaknya memberikan “driving”
kepada sikap mental positif (untuk bertindak), serta memberikan metodologi
untuk memahami kompleksitas persoalan (pemahaman). Dengan demikian, bila
kegiatan ini akan berlanjut mentransformasikan ke berbagai pihak (baik
pemerintah maupun masyarakat), maka kesadaran untuk saling bekerjasama dan
sinergisme pun akan terjadi. Sebab kemudian disadari, untuk memecahkan
berbagai persoalan yang kita hadapi saat ini, kontribusi dari berbagai
pihak merupakan sebuah keharusan. Sebab apa yang kita lakukan, entah baik
ataupun buruk, akan berakibat pada yang lain. Dan, dalam jagat yang saling
interdependen (bagaikan jaring-jaring) ini memang sudah sulit dibayangkan,
berbagai persoalan yang rumit dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.****
Setyo Budiantoro
-
Asisten Ketua Bina Swadaya Direktur Kajian
Ekonomi dan Pembangunan CHOICES
|