Liputan Kegiatan
Jakarta, tgl. 3 Juli 2003 ---
SOSIALISASI
KEMISKINAN DAN "KEMISKINAN" SOSIALISASI
(CATATAN
DARI SOSIALISASI PPK FASE II DI DIY)
Pada hari rabu, 2 Juli 2003
bertempat di hotel Phoenix, Bappeda bidang ekonomi DIY mengadakan kegiatan
bertajuk “Sosialisasi Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Fase II”.
Dengan istilah sosialisasi memang rupanya hanya diharapkan para peserta
yang berasal dari berbagai lembaga/dinas terkait (Dinas Pendidikan,
Kesehatan, Kimpraswil, KM-Kab, dan jajaran birokrat lain), terutama dari
kabupaten penerima PPK, yaitu Gunungkidul dan Kulon Progo, cukup tahu,
paham, untuk kemudian mensosialisasikan ke jajaran di lembaganya. Minimnya
sumbangan konsep dan pemikiran dari lembaga terkait dalam forum tersebut
seolah menunjukkan bahwa konsep yang sudah ada (dari Bappeda) sudah final
dan tinggal dilaksanakan saja di lapangan. Hal ini berbada dengan semangat
awal yang mendasari kegiatan sosialisasi, yaitu untuk menumbuhkan komitmen
bersama dari setiap lembaga yang ada guna menanggulangi kemiskinan di
propinsi DIY melalui PPK.
Berbagai aspek dan kriteria
yang bersifat sosial, seperti pendidikan dan kesehatan belum secara jelas
dimunculkan dalam forum ini. Padahal kedua aspek tersebut akan menjadi
fokus penting dalam pelaksanaan PPK fase II di DIY. Walaupun telah
disampaikan perihal kegiatan PPK dalam aspek tersebut seperti pembangunan
TK, puskesmas, dan lainnya, namun tidak jelas bagaimana menjamin akses
penduduk miskin melalui mekanisme PPK terhadap pendidikan dan kesehatan
yang terjangkau bagi mereka. Akses pendidikan/ kesehatan ini tentu tidak
saja dalam lingkup wilayah adminstratif mereka (desa/kecamatan), melainkan
juga akses secara luas di kota kabupaten/propinsi.
Di sisi lain, telah milyaran
dana yang dikeluarkan untuk PPK namun sampai sejauh ini hasil yang telah
dicapai melalui program ini masih sulit dijelaskan secara kuantitatif.
Belum ada data tentang sejauh mana PPK telah tepat sasaran bagi penduduk
miskin dan seberapa besar
peningkatan pendapatan, pengurangan kemiskinan dan efisiensi program
secara keseluruhan. Evaluasi yang lazim dilakukan masih sebatas proses
penyaluran dana, adminstratif/finansial, dengan ukuran besarnya kenaikan
“omzet” atau modal dalam PPK. Walaupun hal itu perlu, namun masih
tidak cukup untuk dijadikan dasar bagi pengambilan kebijakan program
selanjutnya, yang berkaitan dengan lokasi sasaran, penerima, tingkat jasa
(bunga), dan ukuran yang bersifat sosial lainnya. Sepertinya Bappeda dan
forum perlu lebih serius “menangkap” pesan Prof Mubyarto di awal
sosialisasi bahwa :
1.
Perlu dibangun keterkaitan (sinergi) dalam program penanggulangan
kemiskinan (PPK) meliputi aspek ekonomi dan sosial dengan IPM sebagai
salah satu tolok ukur penting.
2.
Ketepatan sasaran bagi penduduk miskin adalah prioritas program,
dan
3.
Perlu evaluasi yang lebih meyakinkan terhadap keberhasilan PPK bagi
peningkatan kesejahteraan penduduk miskin..
Memang kepedulian yang
sungguh-sungguh terhadap penduduk miskin dapat dibangun melalui
komitmen/kesadaran ideologis (sense of poverty), ketegasan sikap
(keberpihakan pemerintah dan masyarakat), serta diwujudkan dalam langkah
yang nyata (edukasi, advokasi, dan studi kemiskinan). Kesadaran yang
menumbuhkan empati terhadap nasib penduduk miskin inilah yang nampaknya
lebih perlu untuk “disosialisasikan” kepada aparatur pemerintah,
pengelola program, dan masyarakat yang berkecukupan melalui PPK dan
program lain yang berkaitan. Jangan sampai
kegiatan sosialisasi bertema kemiskinan yang dilakukan justru
miskin komitmen/kesadaran, empati, gagasan alternatif, solusi, dan miskin
pemahaman terhadap persepsi dan kebutuhan penduduk miskin.
Awan Sentosa
-
Asisten Peneliti PUSTEP
UGM
|