Bahwa
pengusaha atau entrepreneur selalu hanya “menambah produksi dan
pendapatan negara”, serta “membantu” pemerintah, sungguh tidak sesuai
dengan kenyataan kehidupan ekonomi bangsa Indonesia, lebih-lebih
menjelang dan ketika terjadi krismon 1997/98. Bahkan sejak waktu
itu pengusaha konglomerat menunjukkan keserakahan luar biasa
dengan merugikan rakyat banyak, dan pemerintah tidak berdaya bersikap
keras menghukum kejahatan-kejahatan mereka. Malahan sebaliknya
pemerintah memihak mereka dengan memberikan BLBI Rp 140 trilyun
untuk membantu mereka dan selanjutnya berutang kepada “masyarakat”
sebesar Rp 650 trilyun untuk “menyelamatkan” mereka dari kehancuran.
Alangkah sulit guru-guru ekonomi sekolah lanjutan kita dalam menerangkan
“kontradiksi-kontradiksi” yang demikian kepada murid-murid. Apa yang
tertulis dalam buku-buku pelajaran ekonomi sekolah lanjutan kita
sungguh-sungguh bertentangan dengan kenyataan. Untuk “meluruskan” ajaran
ilmu ekonomi yang menyesatkan ini Muhammad Yunus memperkenalkan konsep “social
entrepreneur”.
If economics could envisage two types of entrepreneurs, personal
driven and social-objective driven, it would not only be
more realistic but it would have helped the world solve many of the
problems that profit-driven market doesn’t solve today (Yunus
2003 : 12)
Social-objective
driven investors will need to separate (social) stock market, separate
rating agencies, separate financial institutions, social mutual funds,
and social venture capital, etc. Almost everything that we have for
profit driven entrepreneur will be needed for sicial-objective driven
enterprises, such as audit firms, due diligence and impact assesment
methodologis, etc. Only in a different context, and with different
methodologies.
(Yunus,
2003: 4)
Anybody
who is offering his/her time and energy to addres any social or economic
problem of a group or communities is a social entrepreneur.
(Yunus,
2003 : 16)
Jika
kekeliruan kita yang selalu memuja-muja pengusaha atau investor ini kita
koreksi dengan memperkenalkan pengusaha sosial (social
entrepreneur), maka kita dapat berharap kemiskinan dapat diatasi
melalui berbagai kebijakan yang memihak pada si miskin.
We
cannot cope with the problems of poverty within the orthodoxy of
capitalism preached and practised today.
With
the failure of many third world governments in running businesses,
health, education, and welfare programmes efficiently, everyone is quick
to recommend – “hand it out to the private sector”... Which
private sector are we talking about?
Personal
private sector has its own agenda. It comes in serious conflict with the
pro-poor, pro-women, pro-environment agenda! Economic theory has not
provided us wth any alternative to this familiar private sector. I argue
that we can create a powerfull alternative – a social conciousness-driven
private sector created by social entrepreneurs
(Yunus, 2003 : 16)
Social
entrepreneur must be supported and encoureged to get involved in the
process of globalization to make it friendly to the poor. Special
privileges should be offered to them to let them scale up and multiply
(Yunus,
2003 : 21)
Ajaran Ilmu
Ekonomi yang Menyesatkan
John
Bresnan, Senior Research Scholar di Universitas Columbia (AS),
yang pernah menjadi kepala perwakilan Ford Foundation di Jakarta
dalam bukunya “Managing Indonesia” (Columbia University Press,
1993), menyediakan satu bab khusus tentang peranan dan jasa besar
teknokrat ekonomi Indonesia dalam membawa kesejahteraan pada rakyat
Indonesia. Bangsa Indonesia sebelumnya dikenal telah “menyia-nyiakan”
setiap peluang membangun ekonomi selama 20 tahun kemerdekaan
(1945-1965). Mengapa teknokrat ekonomi disanjung di luar negeri
terutama di Amerika? Sebabnya, mereka sebagian besar belajar di sana,
pada awalnya di dua universitas “terbaik” di Amerika yaitu University
of California-Berkeley dan University of Wisconsin-Madison.
Setelah selesai belajar di Amerika mereka membawa pulang mazab
ekonomi Amerika, yang mereka percaya penuh seluruhnya dapat
diterapkan di Indonesia. Dan memang benar pertumbuhan ekonomi yang
mendekati “keajaiban” (miracle) berlangsung selama 3 dekade
hampir tanpa henti, yang mampu menaikkan pendapatan per kapita dari di
bawah US$ 100 menjadi diatas US$ 1000. Maka pada tahun 1996 Indonesia
dinobatkan sebagai “The Emerging Giant of South-East Asia”.
Pemerintah Orde Baru sangat bangga dengan jasa-jasa para teknokrat, dan
Fakultas-fakultas Ekonomi di seluruh Indonesia menjadi fakultas
favorit.
Sayangnya
“cerita sukses” ekonomi Indonesia ini tidak pernah diterima secara
kritis, dengan mengenali kekurangan-kekurangan dan
kelemahan-kelemahannya. Yang paling serius dari kekurangan dan kelemahan
itu adalah tidak pernah dipertanyakan apakah hasil-hasil pembangunan
ekonomi telah dinikmati secara merata dan adil
bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana diidam-idamkan dalam
Pancasila dasar negara. Fakultas Ekonomi UGM berturut-turut pada
tahun 1980 dan 1981 mengadakan seminar nasional tentang Ekonomi
Pancasila, yang maksudnya mengingatkan bangsa Indonesia tentang
kekeliruan mazab ekonomi yang hanya mengajarkan pertumbuhan ekonomi
tanpa memikirkan pembagiannya. Pikiran kritis dari pakar-pakar ekonomi
UGM ini, yang sebagian besar juga belajar ilmu ekonomi di AS, mendapat
sambutan positif dan hangat dari masyarakat Indonesia, tetapi disambut
dingin bahkan dicibirkan oleh pakar-pakar ekonomi FE-UI, yang sebagian
besar tokoh-tokohnya memang menjadi “otak” pemikiran ekonomi pemerintah
Orde Baru. Pakar-pakar ekonomi UGM, yang waktu itu sangat kompak
mendukung penuh konsep Ekonomi Pancasila ini, akhirnya
tercerai-berai setelah Pidato Kenegaraan Presiden RI 16 Agustus 1981,
yang menuduh para ekonom UGM “mencari-cari”, atau pemikiran-pemikiran
ekonominya dianggap “ngawur”.
Kini
hampir 25 tahun kemudian, mata seluruh rakyat Indonesia kembali
diarahkan ke UGM dengan harapan sisa-sisa idealisme para pakar
ekonominya masih dapat diandalkan untuk mengoreksi secara total
kekeliruan pemikiran para teknokrat ekonomi Orde Baru yang telah
menghasilkan krisis keuangan berkepanjangan sejak 1997. Meskipun secara
keseluruhan pemikiran kapitalistik-liberal teknokrat ekonomi telah
ditolak oleh para pembaharu (reformis), namun hampir semua pakar ekonomi
yang “menguasai” Fakultas-Fakultas Ekonomi Negeri maupun Swasta di
seluruh Indonesia adalah pakar-pakar kapitalis liberal yang
sangat mengandalkan pada kekuatan pasar bebas. Begitu bertekuk lutut
mereka pada pasar global sampai-sampai mereka selalu menyerah dengan
menyatakan “if we cannot beat them, join them!”.
Menelusuri
kembali asal-muasal pemikiran ekonomi yang “keblinger” ini, apa yang
ditulis John Bresnan dalam buku yang disebutkan di atas, dapat
memberikan sekedar keterangan,
Indeed,
the economists’ political ideas were poorly developed....
Political issues properly speaking, seemed not to have a place in their
thinking at all....
The
economists also did not share the Indonesian nationalists’ discomfort
with foreign aid or foreign investment....
The
young Indonesian economists had, as this suggests, considerable
confidence that mainstream Western economic thingking could be applied
to Indonesia. Their years at Berkeley and other (largely) American
Universities also gave them great confidence in their profesional
ability to set the nation on the path to economic growth; this alone
tended to set them apart from others, to bind them closely together as a
kind of secular brotherhood, earning them the sobriquet “Berkeley
Mafia”.
(Bresnan, 1993: 82-83)
Pada tahun
2002 bersama seorang rekan “ekonom pertanian” dari Universitas
Wisconsin, Daniel W Bromley, kami mencoba meyakinkan rekan-rekan ekonom
Indonesia untuk “mengaku dosa”, dan selanjutnya “kembali ke jalan yang
benar”, mengibarkan bendera Ekonomi Pancasila seperti yang telah
kita kibarkan 25 tahun lalu. Upaya besar ini rupanya tidak akan mudah
mencapai hasil karena buku kami tersebut “hampir tidak ada yang membaca”.
Bahkan seorang Guru Besar Muda yang baru-baru ini menyampaikan pidato
pengukuhan, yang menyerang teori ekonomi Neoklasik, tidak merasa perlu
menunjuk perjuangan FE-UGM 25 tahun yang lalu, yang memberikan kritik
yang persis sama terhadap (ajaran) teori ekonomi Neoklasik, dan
yang ingin mewujudkan Ekonomi Pancasila.
Patutkah
kita berputus asa? Tidak, sekali lagi Tidak. Yang kita pertaruhkan
adalah 210 juta bangsa Indonesia yang hampir 40 juta diantaranya kini,
setelah 58 tahun merdeka, masih hidup dalam serba kemiskinan. Dosa kita
para pakar ekonomi akan lebih besar lagi jika kita menyerah. Mereka yang
masih percaya pada kebenaran pemikiran dan jasa besar Sukarno-Hatta
proklamator Republik Indonesia, perlu terus melanjutkan perjuangan
mewujudkan cita-cita Pancasila dalam praktik hidup bangsa sekarang ini.
Jikalau bangsa
Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu
realiteit, ... janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya
ialah perjuangan, perjuangan, sekali lagi perjuangan.
Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu
perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam
Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya
lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti
kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu padu, berjuang
terus menyelenggarkan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila
(Soekarno,
1 Juni 1945).
Kita manusia itu sifatnya lupa ... dengan Pancasila itu
diingatkan kita bahwa ada Pancasila. Kalau sekali-sekali kita
berbuat salah, diingatkan kita, sehingga kita harus kembali ke jalan
yang lurus. Itulah gunanya Pancasila itu. Bukan sekedar untuk
dihapalkan di bibir saja. Hapalkan, jalankan dengan bukti.
(M. Hatta, 1980)
Ilmu
ekonomi yang kita ajarkan kepada mahasiswa kita sekarang yang sudah kita
ajarkan sejak medio lima puluhan adalah ilmu ekonomi yang keliru
dan tak bermoral, yang tidak memihak pada rakyat miskin
kita. Adalah panggilan sosial dan panggilan moral kita pakar-pakar
ekonomi untuk berubah, dan mengoreksi diri menjadi pejuang-pejuang yang
harus mampu bekerja keras mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia, tujuan akhir ideologi dan dasar NKRI yang
diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Penutup
Krisis
moneter (krismon) yang setelah hampir 7 tahun belum juga
terselesaikan harus memaksa pakar-pakar ekonomi Indonesia berpikir keras
“tidakkah ada yang salah dalam pemikiran ekonomi para teknokrat kita,
yang pada awal Orde Baru telah menjadi pahlawan-pahlawan pembangunan
ekonomi Indonesia?”
Salah satu
kekeliruan fatal adalah kelalaian telah mengabaikan ideologi Pancasila,
khususnya nasionalisme. Jika mereka menganut ajaran ekonomi Barat
secara konsekuen bahwa “the very nature of economics is rooted in
nationalism”, kiranya cukup aneh mereka dengan sadar mengabaikannya.
In the
mids of all the confusion, there is one solid unchanging lump of
ideology that we take so much for granted that it is rarely noticed
–that is nationalism.
The
hard-headed classicals made no bone about it. They were arguing against
the narrow nationalism of Mercantilists in favour of a more far-sighted
policy, but they were in favor of Free Trade because it was good for
Great Britain, not because it was good for the world
(Joan Robinson, 1993: 167).
Ilmu ekonomi yang kita ajarkan kepada mahasiswa kita (bahkan sejak di
sekolah-sekolah lanjutan) harus yang nasionalistik, bermoral,
dan berasas kerakyatan, dan harus mampu mengarahkan
pemikiran ekonomi anak-anak muda kita pada upaya-upaya mewujudkan
keadilan sosial. Kemiskinan adalah salah satu bentuk ketidakadilan
sosial yang harus kita berantas sampai ke akar-akarnya.
Adalah dosa besar dan merupakan pengkhianatan pada para pendiri
negara jika kita para ekonom sekedar menjadi jurubicara dan penyebar
ajaran-ajaran sesat ekonomi kapitalis-neoliberal.
Economics typically are mouthpieces of capitalism and since the
capitalists are not yet seriously interested in reforming their
economic system and way of life in rational, ecological directions
–which would also bring social and economic justice– the economists
are not interested in reforming their theory. (O’connor dalam Ravaioli
1995: 128)
Traditional economics has many faults, in particular its lack of
interest in the unequal distribution between rich and poor, and its
kidding itself it can solve social injustices through the market
(Martinez-Alien dalam Ravaioli, 1995: 129)
Economics should be the science of the whole sociey, in all its
manifestations and fields of action (Georgesc-Roegen dalam Ravaioli,
1995: 128)
2
Maret 2004
Grameen Bank :
Sixteen Decisions
1.
The
four principles of Grameen Bank-discipline, unity, courage, and hard
work –we shall follow and advance in all walks of our lives.
2.
We
shall bring prosperity to our families.
3.
We
shall not live in dilapidated house. We shall repair houses and work
towards constructing new houses as soon as possible.
4.
We
shall grow vegetables all the year round. We shall eat plenty of them
and sell the surplus.
5.
During
the planting seasons, we shall plant as many seedlings as possible
6.
We
shall plan to keep our families small. We shall minimize our
expenditures. We shall look after our health.
7.
We
shall educate our children and ensure that they can earn enough to pay
for their education.
8.
We
shall always keep our children and the environment clean.
9.
We
shall build and use pit latrines.
10.
We
shall boil water before drinking or use alum to purify it. We shall use
pitcher filter to remove arsenic.
11.
We
shall not take any dowry in our sons’ weddings; neither shall we give
any dowry in our daughter weddings. We shall keep the center free from
the curse of dowry. We shall not practice child marriage.
12.
We
shall not inflict any injustice on anyone; neither shall we allow anyone
to do so
13.
For
higher income we shall collectively undertake bigger investments
14.
We
shall always be ready to help each other. If anyone is in difficulty, we
shall all help.
15.
If we
come to know of any branch of discipline in any center, we shall all go
there and help restore discipline.
16.
We
shall take part in all social activities collectively.