EDITORIAL (Edisi 2010-06-10)

PETANI DALAM ERA BIO-AGE

 

Bio-age diperspektifkan sebagai era keempat setelah era pertanian (agricultural-age), yang kemudian disusul oleh pengembangan di bidang industri dan manufaktur (industrial-age) dan era teknologi-informasi (information-age). Globalisasi yang ditandai dengan information-age, telah membawa dunia pada berbagai perubahan. Di era ini, perubahan sosial, ekonomi dan politik merupakan kejadian yang saling terkait dan saling mempengaruhi, dan seringkali keefisienan berbagai bidang kehidupan senantiasa dikaitkan dengan aspek-aspek teknologi dan informasi. Paling tidak dari tinjauan sementara, era ini telah banyak menguntungkan negara-negara maju. Di era ini pula, kesenjangan absolut sebenarnya sedang terjadi antara negara-negara yang belum siap dengan yang sudah mau dalam memanfaatkan peluang akibat globalisasi.

Di era bio-age kita telah dan sedang menyaksikan akselerasi spektakuler di bidang teknologi pertanian, yang ditandai dengan perkembangan bioteknologi dalam beberapa dasawarsa terakhir, terutama di negara-negara maju. Akselerasi bioteknologi modern ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi genetics engineering, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk, kloning dan lainnya. Pola pengembangan pertanian dan pangan serta sistem produksi padat kapital yang dipandu dengan teknologi canggih, penggunaan teknologi biologis, genetic modified organism (GMO), transgenic dan controlled atmosphere, telah menghilangkan atau mengurangi ketergantungan pada alam, musim dan resiko yang terkait dengan sifat biologis suatu produk. Di masa depan, tampaknya persaingan di sektor pangan dan pertanian semakin tidak lagi ditentukan oleh kepemilikan sumberdaya alam, tetapi oleh teknologi biologis yang padat kapital dan menghasilkan produktivitas tenaga kerja yang tinggi.

Banyak pakar ilmu pengetahuan berpendapat bahwa era ini akan menggantikan era teknologi informasi saat ini, sebagai instrumen bagi peningkatan kesejahteraan umat manusia, meski terus menyisakan diskursus yang panjang. Jika pada masa lalu kita hanya mengenal bioteknologi konvensional/tradisional seperti pemuliaan (breeding) yang hanya terbatas pada penyilangan antar organisme (genetic make-up) sejenis, maka saat ini kita melihat teknologi rekayasa genetika telah mampu mentransfer secara lebih cermat antarspesies, baik serupa maupun sangat berlainan.

Produk-produk bioteknologi yang berkembang sangat pesat di dunia tersebut memang diharapkan mampu menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan manusia baik dalam pangan, kesehatan, keamanan dan kesejahteraan. Dalam beberapa hal, bioteknologi telah menunjukkan hasil-hasil positifnya. Akan tetapi, berbagai kontroversi terhadap dampak bioteknologi modern ternyata masih menyisakan masalah mendasar yang harus diatasi. Bagi kita, negara agraris, jelas isyu kontroversi tersebut dalam konteks teknologis harus memperoleh resultan secara baik, sehingga secara sosial ekonomi tidak memberikan potensi dampak negatif bagi masyarakat secara umum. Sementara itu, ‘rambu-rambu’ dunia dalam mobilitas produk-produk pertanian seringkali lebih didominasi oleh instrumen politik dibandingkan dengan instrumen sains. Bagaimanapun juga, pemerintah harus mengambil kebijakan yang tegas di bidang ini, sebelum terjadi berbagai kontroversi yang tidak produktif.

Apa yang kita lihat saat ini? Mainstream pembangunan ekonomi kita sejauh ini masih belum fokus pada pengembangan kapabilitas sumberdaya pertaniannya. Agribisnis sejauh ini masih terbatas menjadi ‘jargon’ peningkatan daya saing yang tidak jelas arahnya. Petani, pekebun dan nelayan sebagai aktor utama pembangunan pertanian belum menunjukkan tanda-tanda menjadi lebih produktif, lebih bermartabat dan lebih sejahtera, bahkan cenderung semakin ‘tertinggal’ dibandingkan aktor pembangunan lainnya. Tehnologi pertanian di era bio-age haruslah menjadi urusan bangsa. Ia memerlukan ketegasan visi, misi dan upaya-upaya terobosan dalam mengembangkan riset-riset bioteknologi berbasis keunggulan kompetitif negara kita, dan harus merupakan long term blue print yang konsisten dari bangsa Indonesia dalam menatap masa depannya. Itu jika kita tidak ingin tertinggal lebih jauh lagi.

Kita menunggu ketegasan ideologi, kebijakan dan keberpihakan yang jelas pada petani, pertanian dan pangan kita.

Surabaya, Juli 2010

 

Rudi Wibowo

 

 


  
   
Editorial - 2010-06-10 : PETANI DALAM ERA BIO-AGE
Editorial - 2010-05-10 : Benarkah Bank Dunia semakin Menyayangi Pertanian?
Editorial - Mei 2005 : KEPAKARAN DAN KOMPETENSI
Editorial - April 2005 : EKONOMI RAKYAT DAN EKONOMI PANCASILA
Editorial - Maret 2005 : Ekonomi Rakyat dan Kenaikan BBM
Editorial - Pebruari 2005 : Komisi Konstitusi, MPR dan Ekonomi Pancasila
Editorial - Januari 2005 : Ekonomi Populis di Tahun 2005
Editorial - Desember 2004 : BBM dan Ekonomi Rakyat
Editorial - November 2004 : Ekonomi Rakyat (Tetap) dalam Bahaya
Editorial - Oktober 2004 : Perubahan
Editorial - September 2004 : Keberpihakan dan Keadilan
Editorial - Agustus 2004 : Kualitas Manusia Indonesia
Editorial - Juli 2004 : Populis adalah Pro Rakyat
Editorial - Mei 2004 : Pendidikan Rakyat
Editorial - April 2004 : Ekonomi Rakyat Pasca Pemilu
Editorial - Maret 2004 : Belajar Mengatasi Kemiskinan dari Negara Miskin Bangladesh
Editorial - Januari 2004 : Ekonomi Rakyat dan WTO
Editorial - November 2003 : Liberalisasi dan Globalisasi Melemahkan Daya Juang Ekonomi Rakyat
Editorial - Oktober 2003 : Ekonomi Kerakyatan
Editorial - September 2003 : Moral Berekonomi Bangsa
Editorial - Agustus 2003 : Ekonomi Rakyat Makin Kuat
Editorial - Juli 2003 : Yusuf Kalla Menghimbau Keadilan dani Para Elit Bisnis
Editorial - Mei 2003 : Ekonomi Percaya Diri
Editorial - April 2003 : Partisipasi Rakyat
Editorial - Maret 2003 : Ekonomi Rakyat dan UKM
Editorial - Februari 2003 : Satu Tahun Jurnal Ekonomi Rakyat (JER)
Editorial - Januari 2003 : Kilas Balik Ekonomi Rakyat Tahun 2002
Editorial - Desember 2002 : Menghamba Ilmu-Ilmu Barat
Editorial - November 2002 : Perkembangan JER Menggembirakan
Editorial - Oktober 2002 : Pembangunan Alternatif untuk Indonesia
Editorial - September 2002 : Ekonomi Rakyat dalam Era Globalisasi
Editorial - Agustus 2002 : Investasi Ekonomi Rakyat
Editorial - Juli 2002 : Manifesto Politik Ekonomi Pemberdayaan Ekonomi Rakyat
Editorial - Juni 2002 : Salam dari Wisconsin, AS (2)
Editorial - Mei 2002 : Salam dari Wisconsin, AS
Editorial - April 2002 : Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Editorial - Februari 2002 : SALAM perkenalan dari Jurnal Ekonomi Rakyat (JER)!

 

 

 


Copyright © 2003 www.ekonomirakyat.org
e-mail: redaksi@ekonomirakyat.org dan yae@indo.net.id
web-master: webmaster@ekonomirakyat.org