Liputan Kegiatan (Bangkok,
4,5,9 Maret 2002)
Pertemuan
INASIA COREGROUP
Oleh: Bambang Ismawan dan Riza
Primahendra
INASIA
adalah
jejaring dari beberapa LSM terkemuka di Asia khususnya Asia Selatan dan
Asia Tenggara yang bermaksud mengembangkan wacana dan praktek pembangunan
yang lebih menghormati rakyat dan lebih jauh lagi menempatkannya sebagai
pusat upaya pembangunan.
Pertemuan di Bangkok merupakan bagian dari seri pertemuan sebelumnya yang
telah diadakan khususnya pertemuan di Rajendrapur, Bangladesh dan
Dhulikhel, Nepal dengan topik utama membicarakan generasi ketiga paradigma
pembangunan yang disebut dengan micro economic initiative.
Untuk
mempersiapkan pertemuan di Bangkok, tiga orang telah diberikan mandat
untuk membahas isu sentral yaitu John Samuel dari NCAS India, Sunimal
Fernando dari Sekretariat Jendral Inasia, dan Riza Primahendra dari Bina
Swadaya, Indonesia. Mereka bertiga telah melakukan diskusi secara intensif
selama 3 hari pada awal bulan February di Pune, India.
Inasia setelah
melaksanakan refleksi bersama dan berkelanjutan mengenali terdapat tiga
paradigma pembangunan yang berkembang dan diadopsi oleh berbagai pihak.
Paradigma generasi pertama adalah paradigma yang berkembang pada periode
60, 70, dan awal 80-an dimana pembangunan menjadi isu sentral bagi
sebagian besar negara berkembang. Didalam pradigma ini, pemerintah
merupakan pelaku utama pembangunan dan format pembangunan berbentuk
berbagai intervensi dan penyediaan berbagai kebutuhan dasar masyarakat.
Mengingat pemerintahan negara berkembang pada umumnya tidak memiliki modal
yang cukup, maka pendanaan dari pembangunan dilakukan dengan pinjaman baik
bilateral maupun multilateral.
Paradigma
pembangunan generasi pertama telah menghasilkan pembangunan sarana dan
prasarana yang luas meski sering salah sasaran akan tetapi juga membuat
program pembangunan tidak berkelanjutan. Menjawab persoalan tersebut
berkembang paradigma pembangunan kedua yang berbeda dengan paradigma
generasi pertama percaya bahwa rakyat khususnya yang miskin bukanlah
kelompok yang tidak mampu. Mereka adalah kelompok rakyat yang memiliki
kemampuan meski hanya terbatas. Kebutuhan mereka bukanlah penyediaan
berbagai kebutuhan dasar karena hanya akan membuat mereka tergantung
melainkan pelayanan keuangan atau lebih khusus lagi permodalan. Melalui
permodalan mereka akan mampu mengembangkan usaha ekonomi produktif dan
kemudian akan mampu membiayai sendiri pemenuhan kebutuhan dasarnya. Dengan
kata lain, paradigma generasi kedua yang kemudian dikenal dengan keuangan
mikro percaya bahwa orang miskin adalah credit worthy dan bankable.
Aktor didalam generasi kedua ini telah meluas tidak hanya
pemerintah akan tetapi juga mencakup berbagai lembaga keuangan mikro.
Keuangan mikro
dalam perjalanannya telah membuktikan banyak hal seperti: rakyat miskin
memiliki kemampuan, perempuan merupakan klien yang terpercaya, pembiayaan
pembangunan dapat dikomersialisasikan, dan semacamnya. Refleksi yang lebih
mendalam terhadap keuangan mikro menemukan juga adanya berbagai persoalan
seperti: ketidakmampuan keuangan mikro menjawab persoalan-persoalan
structural dan sistemik yang sering menghambat demokrasi ekonomi dan
persoalan cultural yang perlu untuk ditansformasikan. Untuk itu, dikenali
kebutuhan pengembangan paradigma generasi ketiga yang tidak mengabaikan
keberhasilan keuangan mikro akan tetapi bergerak melampaui batasan-batasan
keuangan mikro. Paradigma generasi ketiga pada kenyataannya bukan
merupakan sesuatu yang sama sekali baru, sebaliknya paradigma ini
merupakan praktek ekonomi yang telah dilaksanakan oleh rakyat selama
beberapa dasawarsa yang pada akhir-akhir ini banyak dikenali dengan
economy of solidarity atau micro economic initiative.
Paradigma ini
pada dasarnya menegaskan fungsi ekonomi sebagai alat las
bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan dan karenanya tidak dapat
dengan las an apapun mengorbankan kepentingan manusia. Ekonomi juga tidak
boleh menjadi alat untuk memarjinalisasi sesama manusia untuk kepentingan
sekelompok kecil manusia yang lain, sebaliknya ekonomi harus menjadi alat
untuk semakin memberdayakan manusia dalam segala dimensi kehidupannya.
Paradigma ini dengan demikian menuntut peninjauan kembali secara
menyeluruh berbagai pemikiran dan praktek ekonomi yang saat ini
dilaksanakan.
Lebih jauh
lagi, Inasia merasa sudah saatnya dilaksanakan upaya-upaya yang lebih
sistematis dan terencana untuk mengembangkan wacana paradigma generasi
ketiga beserta berbagai implikasinya baik ditingkat global maupun
nasional.
Inasia
menyepakati serangkaian tindak lanjut sebagai bagian untuk mengembangkan
wacana generasi ketiga dan mempengaruhi berbagai stakeholder untuk
mengembangkan isu yang dimaksud. Tindak lanjut tersebut adalah:
-
Penyusunan
position paper dan booklet yang akan dilaksanakan oleh Sekretariat Jendral
berdasarkan bahan-bahan yang ada dan kemudian akan dikonsultasikan melalui
internet;
-
Penyusunan
manual akan menjadi tanggung jawab Samuhik Abhiyan, Nepal dan akan dibantu
oleh Bina Swadaya, Indonesia;
-
Pelaksanaan
riset dipercayakan kepada BRAC, Bangladesh dan akan dibantu oleh APDC;
-
Lobby baik
kepada komunitas internasional maupun nasional, menjadi tanggung jawab
masing-masing dan akan dilaporkan kepada Sekretariat Jendral
Inasia menutup
pertemuan dengan kesadaran bahwa pekerjaan yang akan diselenggarakan ini
adalah sangat mendasar akan tetapi belum terlalu banyak pihak peduli
terhadap kompleksitas persoalan dan karenanya upaya yang terus menerus
dari Inasia dan anggota-anggotanya merupakan sesuatu yang imperatif.
*)
|