Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat
Notulensi Seminar Seri III: Sistem Ekonomi Indonesia
Oleh: Budi Baik Siregar dan Maskanah
Tanggal: 19
Februari 2002
Pembicara:
Prof. Dr. Sri-Edi Swasono
dan Prof. Dr. Mubyarto
Moderator:
Prof.
Mubyarto
Pembukaan oleh Bp.
Mubyarto
Inilah
pengalaman yang menarik bagi kita untuk mensosialisasikan konsep ekonomi
rakyat yang masih memerlukan perjuangan.
Peserta seminar yang hadir dari Universitas Gunung Kidul yang kami
ceritakan itu selalu akan beralain-lainan karena memang digilir.
Peserta dari Universitas Gunung Kidul kali ini Mbak Kartika,
Universitas Gunung Kidul yang ketua dewan pembinanya adalah Prof. Dr.
Kusnadi menginstruksikan supaya dosen-dosen jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan datang secara bergiliran dalam setiap 2 minggu ke seminar
pendalaman ekonomi rakyat.
Dari
segi nama saya usulkan menjadi SPER (Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat)
supaya gampang. SPER terdiri
dari 12 kali pertemuan yang akan berakhir bulan Juli yang akan datang,
Session minggu depan adalah mengenai Etika dan Bisnis, Pak Jacob masih
tetap komit dan ingin datang. Pak
Edi Swasono yang menyesuaikan dengan acara kita sudah tahu dari dulu-dulu
(pada tanggal 19). Saya kira sangat kita hargai. Ada tamu asing Pak Chris
Manning. Ini tamu asing dari dunia barat di selatan kita yaitu dari
Australia. Pak Chris Manning
sekarang adalah tenaga ahli di Bappenas.
Makalah pertama
"Etika, Agama dan Sistem Ekonomi" oleh Mubyarto
Makalah kedua
"Sistem Ekonomi Indonesia" oleh Sri-Edi Swasono
Sesion Diskusi
Bp. Purwanto (ITB)
Yang pertama disampaikan pada Pak Muby yaitu mendirikan
Universitas. Kenapa mesti nunggu sampai pensiun, sekarang lebih baik
mumpung masih sehat, supaya kaderisasinya bisa terjamin. Saya amat
mendukung dan saya maunya dari kemarin-kemarin.
Untuk Mas Edi, memang kemelut di segala bidang yaitu ekonomi
dan lain-lain mungkin di atasnya moral.
Saya hanya melihat ada satu jalan apakah rakyat secara umum sanggup
menahan diri untuk suatu derita, sementara satu dua tahun seperti yang
telah dilakukan negara-negara lain bisa benar-benar mengencangkan ikat
pinggang yang sudah kencang karena tanpa itu saya kira kita berputar-putar
saja. Katakan ada BLBI,
"kenapa BLBI tidak cepat selesai ya karena orang sudah tahu sebabnya,
kenapa yang sudah jelas-jelas didakwa tidak cepat-cepat diadili, ya
sebabnya kita juga sudah tahu".
Yang perlu penjelasan adalah apakah rakyat kita seluruhnya mau
menahan sedikit waktu seperti zaman kita tahun 60-an itu, makan batu
campur beras (bulgur). Apakah angkatan adik-adik kita akan sanggup ? Kalau
kita bisa bertahan 2 tahun saja saya kira kita masih bisa recovery.
Tapi dengan cara sekarang, saya lihat tidak ada ujung pangkalnya
yang bisa menjamin kita sampai, karena satu sama yang berbeda selalu
menyatakan lain. Mas Edi mengatakan kalau 3/4 jumlahnya 135 triliyun
sekarang sudah mencapai 657 trilyun dan saya tidak tahu bagaimana cara
menyelesaikannya walaupun hanya di atas kertas sekalipun.
Jadi apakah kita sekarang yang sampai sekian puluh juta sanggup
menahan hanya makan sekali dalam sehari ? Berangkali kalau kita menghimbau
para elit, kita sudah membuktikannya siapa mereka itu belum 2 tahun
berkampanye sekarang sudah lain.
Mubyarto
Seorang kolega saya bekas mahasiswa di FE juga mengatakan hal
yang sama. Kenapa tidak sejak sekarang saja (mendirikan Universitas). Kita
menghadapi masalah besar, kalau kita tidak segera berbuat sesuatu maka
bahayanya akan lebih besar ? Jawaban saya, sekarang saya masih dosen UGM
kalau lalu mendirikan universitas sendiri di luar apakah hal itu bukan
sesuatu yang mengherankan ? Pak Probo yang dulu memiliki Universitas
Wangsa Manggala Yogya pernah menawari saya jadi Rektor di sana. Jawaban
saya sama, saya ini masih jadi guru besar tetap UGM kemudian menjadi
Rektor di universitas swasta lalu loyalitasnya seperti apa ? Pada waktu
ketemu terakhir kali saya ditawari lagi agar menjadi ketua lembaga
penelitian. Sementara tedapat
juga orang-orang yang memberikan perhatian soal ini dan saya telah meminta
seorang rektor supaya mengubah cara pengajaran di fakultas ekonomi di
Yogya. Sekarang saya menjadi
salah seorang anggota dari Majelis Wali Amanat UGM yang bertanggung jawab
mengarahkan pendidikan. Sebagai anggota Majelis Wali Amanat saya masih
bisa mengarahkan. Jadi usaha-usaha masih dapat saya jalankan. Itu alasan
saya, mengapa tidak sekarang. Saya juga melihat, "aduh kalau begitu
memang penting kenapa harus menunda". Setelah umur 65 tahun saya
tidak akan minta untuk diperpanjang dan memang saya betul akan mendirikan
universitas, jika dalam setahun ini saya akan gagal total.
Seminar semacam ini merupakan salah satu yang bisa kita
lakukan. Prakarsa ini diambil
oleh YAE yang kebetulan saya ketuani bersama Pak Sajogyo sebagai pengurus
YAE sekaligus memimpin Pusat P3R (Pusat Pengkajian dan Pengembangan
Perekonomian Rakyat), sejak tahun 95 sudah hampir 6 -7 tahun.
Kegiatan ini didukung oleh PERHEPI, ISI - Indonesia yang ketuanya
Pak Tjondro, dalam arti kerja sama, ini adalah kelompok-kelompok yang
sepaham dengan perhatian yang sama. Seminar kita lakukan di sini, karena
inilah tempat orang biroktat-konglomert sering berkumpul. Tujuan kita
masuk ke sini ingin menyerang jantung ekonomi para konglomerat.
Apakah peminatnya memadai ? Dulu pada seminar kesatu dan kedua saya
sangat puas ada 60 orang peserta tetapi yang ketiga ini hanya dihadiri
oleh 25 peserta. Apakah pada
seminar selanjutnya peserta akan bertambah?.
Di sini kita betul-betul berusaha merubah cara pikir orang yang
tidak mau mengakui ekonomi rakyat, paling sedikit ngerti.
Pada penutupan sesi kami akan menyorotkan website kita. Kita akan
menerbitkan jurnal ekonomi rakyat melalui internet, majalah utama yang
akan kita terbitkan setiap tanggal 17.
Redaksinya Pak Sajogyo, saya dan sejumlah anak-anak muda. Jadi dari
awal kita tidak main-main, kita betul-betul serius.
Semua ini kita coba kerjakan.
Walaupun tidak ada sponsor kecuali Bank Rakyat Indonesia. Beberapa
perusahan juga sudah ada yang menyatakan ingin mendukung misalnya Kompas.
Jadi mungkin awal-awal ini agak seret.
Satu hal lain yang akan saya kerjakan pada Bulan April dan Mei
adalah menulis di Kampus Universitas Wilconsin Medison. Selama saya pergi
Pak Sajogyo dan Pak Bambang akan melaksanakan program ini. Di sana saya
menemukan seorang teman, Prof. Bromley, dia dosen dari Institutional
Economics University of Wilconsin tempat lahirnya ekonomi kelembangaan.
Kami akan menulis sebuah buku dalam Bahasa Inggris yang kami beri judul A
Development Manifesto for Indonesia (masih dirahasiakan).
Bp. Purwanto (ITB)
Dengan komentar Prof Muby, saya makin yakin misalnya kalau
Prof tidak mulai dari sekarang adalah menurut saya tidak akan relevan.
Tinggalkan semua jabatan-jabatan tadi. Itu lebih penting karena idealisme
itu harus lebih ditinggikan daripada jabatan-jabatan apapun. Prof
menyebutkan beberapa nama yang ada dalam tim misalnya kalau terlalu lama
mungkin Pak Edi sudah akan loyo sekarang dia masih
fresh untuk itu. Jadi
kalau alasan Prof itu, itu lebih baik ditinggalkan karena hal itu lebih
rendah daripada idealisme.
Bp. Sri-Edi Swasono
Saya tidak tahu apakah dua tahun lagi rakyat masih makan.
Tetapi yakin rakyat tidak tahan kalau betul-betul lapar, betul-betul recovery,
karena inspirasinya tidak didengarkan jadi partipation
gap-nya juga besar, tiap hari kita disuguhi oleh iklan-iklan di TV
yang telah merubah human being
menjadi given hungry. Orang
Inggris memberi nama being pada
manusia karena dalam being
mengandung esensial dan eksistensi, manusia, harkat, martabat yang disebut
being, you don’t care, yang
penting adalah human happy kalau
belum mempunyai ini itu belum merasa menjadi being.
Sekarang masyarakat kita itu digoda. Yang paling tidak tahan antara
lain pegawai negeri makanya korupsi.
Korupsi menjadi prestasi. Anda tahu bagaimana pegawai negeri dapat
membeli mobil 3,2 M. Sebenarnya Indonesia tidak kekurangan uang, hanya
uang itu tidak tersalur kepada produktivitas
apalagi tersalur ke masyarakat luas.
Dua tahun itu lama, banyak yang bisa kita lakukan kalau pemerintah
mau menggunakan defisit financing
untuk hal-hal yang produktif. Teori
teknis ekonomis menjamin you
jangan takut dengan inflasi kalau uang itu dipakai untuk sesuatu yang
digiling dan itu ada di daerah pertanian.
Pada sektor pertanian kita mempunya ikan tetapi tiap tahun dicolong
5 $, "kalau saya jadi Ibu Mega atau suaminya Ibu Mega karena dia yang
pintar daganganya, itu maling-malingnya saya panggil, hai maling enggak
usah nyolong 5 nih saya kasih 10 tak bantu aku carikan ikan-ikanya yang
gemuk you ngambil 10 tapi bagi 2".
Di luar kelas, itu namanya production.
Sekarang ini Rini menyetop ekspor pasir padahal usulan saya tertulis tidak
begitu, "ambil saja ekspor pasir daripada sama swasta yang tidak
jelas izinnya, pemerintah mengambil alih ekspor pasir ke Singapura itupun
harus dengan bergaining untuk
memperbesar cross Singapur yang
menjorok ke Malaysia jangan menjorok ke Indonesia, kalau menjorok ke
Indonesia ZEE kita berkurang" Karena
kita bodoh ya menjorok ke Indonesia.
Sesungguhnya kita banyak uang untuk menggerakkan UKM dan sektor
riil bergerak di UKM bukan di
sektor besar, yang terjadi adalah UKM-nya dilelang.
Semua ini karena
kemenangan lobi dari pasar tke
market ever strong lobby dan mereka lobinya goal.
Jadi dengan kata lain jalan yang canggih untuk keluar adalah dengan
cara resousces yaitu
agroekonomi, kelautan, dll.
Evi Ganies (JKPM)
Saya menyayangkan kalau wartawan identik dengan gratis.
Kalau seminar ini diadakan hanya untuk orang-orang seperti yang ada
di sini mungkin mereka sudah mempunyai frame yang cukup kuat tentang
ekonomi rakyat. Saya
mengusulkan ke Pak Muby di luar dari materi yang dibicarakan. Saya
perhatikan pers mempunyai kekuatan untuk merubah pola pikir orang dan
itupun berbeda tergantung kelasnya. Saya kadang melihat suatu quality dari penulis berita atau artikel yang kurang, saya
mengusulkan kalau memang ada dana, ada sponsor, ada penyandang dana
tolonglah insan pers
diberikan kursus/training supaya lebih tahu mengenai ekonomi rakyat
terutama untuk insan pers yang muda. Jangan hanya seminar untuk akademisi
atau LSM tetapi cobalah adakan pendekatan pers sehingga mereka ikut
mendukung usaha Pak Muby untuk bisa merubah / menyesuaikan orang-orang
yang pro pada ekonomi fiscal dan moneter ke ekonomi rakyat
Mubyarto
Saya mohon komentar dari Pak Sajogyo.
Seminar sudah dilakukan 3 kali dan untuk wartawan kami khusus
mengadakan konprensi pers pada tanggal 10 tetapi terbukti memang tidak
mudah untuk menjangkau mereka. Tadi pagi saya ketemu banyak wartawan dan
mereka mau datang, tetapi buktinya tidak ada satu pun yang datang.
Padahal bagi wartawan gratis, karena kami mengharapkan mereka juga
sebagai peserta. Sekarang jadi peserta pun tidak dan kami juga ingin
mengetahui mengapa ?
Sajogyo (Pusat P3R-YAE)
Kalau tadi sudah mendengar uraian dari Pak Edi, jangan-jangan
ini juga pasaran yang tidak
lama, tapi kalau kita sudah masuk web saya kira kita bisa bekerja terus,
kita masih bisa diskusi dengan pembicara. Kalau tidak salah dari Bina
Swadaya itu sudah mengerahkan orang yang khusus profesinya sebagai
wartawan yaitu Haryo Sumarto.
Haryo Sumarto (Bina Swadaya)
Memang untuk kalangan pers saya sudah berhasil ke sana,
paling tidak saya sudah menyebarkan undangan ke seluruh media yang ada di
ibukota, tetapi tanggapannya kurang begitu menggembirakan. Pada waktu yang
pertama saja banyak yang hadir tetapi yang ditanyakan bukan masalah tema
seminar tetapi masalah PSPK yang lagi ngetrend. Lalu kami mengusulkan
untuk yang berikutnya supaya mengadakan kerja sama dengan PWI maupun AJI
karena mereka yang mempunyai komando dengan serikat wartawan ini. Dengan
kerja sama ini masih ada kemungkinan untuk mensosialisasikan ekonomi
rakyat di kalangan pers sendiri.
Purwanto (ITB)
Pengalaman saya tahun 67 waktu saya diundang pada acara untuk
mempopulerkan nuklir, kita mengundang PWI dan mengadakan kursus satu
minggu bagi wartawan serta membawa mereka ke reaktor atom. Dengan proses
tersebut mereka memahami. Jadi berdasarkan pengalaman tersebut kita
berikan kursus kepada mereka mengenai ekonomi rakyat kepada mereka supaya
menjadi bahasa populer bagi mereka.
Mohammad Ghozali (Mahasiswa Semester IV Universitas Airlangga)
Kami bahagia sekali dengan diluncurkannya website ini, karena
Kami di Unair mempunyai kelompok-kelompok kecil yang membahas mengenai
ekonomi yang tidak Kami dapatkan di bangku kuliah, dan Kami merasa bosan
karena dicekoki dengan materi-materi yang sebenarnya jauh dari realita di
Indonesia.
Pertanyaan untuk Pak Edi, untuk sekarang ini mengenai hutang
yang menumpuk dan dengar- dengan akan paskot ketiga akan segera
dilabaskan. Apakah Indonesia bisa atau survive
tanpa hutang ? Bagaimana dampaknya? Apa usaha kita untuk melunasi atau
kita survive tanpa hutang ?
Berapa lamakah (tahun) hutang ini akan terselesaikan? Dampak apakah yang
terjadi apabila amandemen UUD pasal 33 benar-benar dilaksanakan bagi rakyat kecil ? Bagaimana upaya untuk menangkis dampak
tersebut?
Sri-Edi Swasono
Sebelum menjawab saya pernah memberikan stirish of letter kepada wartawan Berita Buana, itu juga hanya
karena ketua redaksinya/pimpinan umunya menghendaki. Jadi begitu mereka
dibilang move mereka harus
mendengarkan, absen dan lapor kepada saya dan
memang begitu prosedurnya. Seperti
tadi pendapat Haryo kita harus lewat PWI atau pimpinan umumnya sendiri,
bahwa kami menyediakan training bagi meraka secara cuma-cuma, kalau
tidak kita akan kehilangan lebih banyak.
Mengenai hutang luar negeri yang sudah banyak dibicarakan,
saya tukar posisi supaya Bank Dunia dan IMF bertanggung jawab akan sekolah
ekonomi dunia ini. Sebagai
seorang ekonom yang mengenal policy
ekonomi teknis, saya tahu betul kalau IMF telah membuat kesalahan,
saya bisa menunjukkan atau membuktikan bahwa mereka bodoh dalam menerapkan
kebijakan ekonomi. Sewaktu
saya di Amerika Serikat dalam rangka menyampaikan sedikit orasi, saya
pergunakan kesempatan tersebut untuk menyatakan bahwa IMF dan Bank Dunia mesti mengakui kekuatan ekonomi
adalah pada grassroot, the grassroot
based economy itulah yang menyelamatkan ekonomi Indonesia. Ini adalah
sesuatu yang penting diketahui oleh IMF dan Bank Dunia. Kami bertujuh
pernah mengkonsep suatu pernyataan yang ditandatangi oleh 180 anggota DPR
sekarang, untuk menuntut IMF soal diterima enggak diterima itu soal lain.
Kita mengusulkan protes karena kita tahu di mana dia salah, tetapi IMF
menjawab dengan membekukan/melikuidasi
16 bank di situ terjadi cross tanpa belind time
terjadi dan berbagai policy yang
melumpuhan Indonesia. Kita menuntut tetapi sayangnya kita tidak mempunyai
lobi yang kuat di luar negeri karena duit tidak pernah ada, untuk
menggerakkan orang-orang yang tahu dan benci bahkan selalu protes kepada
IMF. Bahkan
mereka sekarang sedang berkumpul di Brazil. IMF banyak membantu
negara tapi yang berhasil hanya Brazil yang lain enggak. Jadi diharapkan
minimal bisa terjadi penundaan pembayaran, paling tidak reschedulling.
Misalnya kita tidak bayar hutang selama 10 tahun dan jangan dikasih bunga,
maka berarti selama 2 tahun kita tidak perlu hutang, kenapa tidak hutang ?
karena 56 milyar dollar yang kita pakai untuk "menyaur" hutang
tidak perlu dibayarkan, jadi semua yang diperoleh di dalam negeri
dipergunakan untuk kekuatan kita. Tetapi hal tersebut juga menjadi sulit
karena rahasia dapur kita bahkan tempat tidur pun kita beritahukan kepada
IMF kita tidak bisa apa-apa.
Kita ditantang punyakah proyek untuk grassroot yang ready
difinancing, kita harus siapkan, mungkin di Pemda-Pemda atau di
Bank-Bank ada project proposal
atau research study yang
memberikan return di samping
yang of readable maupun feasiable,
nah kalau itu kita data, kita punya dengan rupiah pasti kita bisa,
obligasi bukanlah untuk mendongkrak bank yang sudah mati, saya kira bisa,
orang Padang di Jakarta saja bisa membeli semen padang, lho kok gimana
semen padang mau dijual ke asing ini contohnya. Berarti uang itu ada
kemudian dikasih penyaluran nah ini kita kreatif.
Jadi kalau ditanya berani ya berani.
Kwik waktu ditanya "wani", "ya wani tenan" yang
sayangnya Kwik dan Edi bukan presiden dan wakil presiden.
Tadi saya sebelum ke sini bilang ke Adi Sasono, kita ini se
powerless, yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa.
Mojokerto yang dulunya Majapahit kenapa Majapahit bisa maju
tanpa utang luar negeri ? ya karena tidak ada rentenir (IMF itu rentenir,
suka jerat-jeratin orang). Ekonomi zaman Majapahit adalah resources base (dia mempunyai laut, keruk itu laut, dia mempunyai
tanah, tanami itu tanah), nah kita tidak lakukan itu. Kalau nanti govermenship,
"jeger" OK, sekian % kita alokasikan untuk pengembangan ekonomi
rakyat, kita prepare dengan project-project
tertentu (di ITB terdapat segudang project
proposal, project feasibility study yang harus ditawarkan bahkan di
bank BRI juga ada). Dalam sistem ekonomi juga termasuk kultur dan kultur
kita ini beragam, dari "Jawa kowek" muncul kuntur jawa yang
modern yang kalau kepepet refleks melakukan tiga hal yaitu hutang, jual
barang, dan gadaikan cincin kawin. Yang
bisa menyelamatkan bangsa hanya kita sendiri, anda sudah mempunyai political
will tinggal menstransformasi menjadi political
carier dan kita harus kreatif mengatasi itu sampai berapa tahun pun
kita tetap plan, jadi APBN yang
diserahkan kepada DPR yang disetujui memang kabinet tahun berlalu
seharusnya sekalian mengajukan APBN juga mengajukan draft 5 tahun ke
depannya, supaya bisa melihatnya apakah hutangnya bertambah atau
berkurang. Kalau hutang ini kita kurangi 20% setiap tahun maka tahun
kelima hutang kitan 0% berarti kita sudah tidak mempunyai hutang. Tetapi
ya, kalau kita tidak punya rencana ya semua itu tidak akan menjawab
pertanyaan anda.
Mubyarto
Saya kira Pak Bambang dan Pak Titus bisa menjawab sebelum ada
2 pertanyaan lagi yang masuk itu, apabila kita tidak punya hutang itu
apakah akan mati atau masih betul-betul hidup.
Mengenai proyek-proyek mungkin ada, karena beliau-beliau ini sering
berhubungan dengan NGO atau pemerintah di luar negeri itu mungkin bisa
menjawab, gimana kok kita ini sepertinya hutang itu adalah "lion
ewe", mengatakan itu sikap orang Jawa saya setuju hanya 5 %,
teman-teman kita yang saya kenal di Bappenas atau di EKUIN itu pikirannya
sudah mentok seakan-akan hutang lagi itulah satu-satunya cara, karena
dalam teori ekonomi neoklasik itulah yang diajarkan, nggak ada peluang
lain. Kalau pemerintah kita itu tidak begitu, hutang itu harus, karena
untuk menutup anggaran yang 300 triliyun, padahal kalau uangnya hanya 200
triliyun ya sebetulnya itu saja dicukup-cukupkan tidak perlu hutang.
Titus (Gema PKM)
Pak Edi tadi menanyakan apakah ada proyek jadi jawabannya ya,
karena kami ini pelaku microfinance
kami sangat meyakini bahwa proyek itu ada.
Apa itu ? Yaitu usaha-usaha mikro, usaha mikro itu adalah usaha
yang sangat kecil jauh di bawahnya UKM, jadi orang bicara kecil ini hanya
sampai pada UKM padahal ini usaha kecil di bawahnya UKM. Nah kami punya pengalaman dalam waktu 3 tahun terakhir ini
melayani 14.000 usaha mikro dan mereka itu tingkat pengembaliannya sangat
bagus kecuali barusan kena banjir. Dengan pengalaman seperti ini dengan
sistem dan mekanisme kerja yang sudah diketahui, kami bersama-sama dengan
lembaga keuangan mikro yang lain melakukan gerakan bersama untuk
menjangkau 10 juta orang miskin dalam kurun waktu 5 tahun. Dana yang
dibutuhkan hanya Rp.7,2 triliyun dan itu tidak akan hilang karena bukan
dibagi-bagi tapi untuk revolving. Dari mana
uang Rp.7,2 triliyun itu ? Kalau kita lihat BRI dengan 4 ribu cabangnya
unit desa pada tahun 2001 mampu menggalang tabungan masyarakat 21 triliyun
dan BRI itu tidak bisa menyalurkan, hanya sekitar kurang lebih 11 triliyun
tersalur jadi BRI punya sisa dari tabungan
itu 10 triliyun itu ada di bank, nah untuk apa itu ? Kita tidak
tahu, apa SBI atau sudah dipinjam konglomerat macet.
Yang saya ingin katakan bahwa di satu pihak dana itu dari
masyarakat sendiri yang ada di bank-bank, di lain pihak kebutuhan itu ada,
kalau 10 juta usaha mikro di desa menerima masing-masing 1 juta maka
mereka ini bisa memutar roda perekonomian dari desa.
Yanti (Psikologi - UAJ)
Dari teori ekonomi saya tidak begitu menguasai tapi dari
pamahaman saya kalau mau menggerakkan ekonomi rakyat harus menanamkan
entreprenership pada rakyat kalau tadi ada sejumlah dana yang tidak
disebarkan ke pedesaan yang saya tangkap karena saya juga dari desa-desa
banyak pemuda yang tidak mempunyai pekerjaan dan kalau itu digalang atau
diberi pelatihan mungkin mereka akan menjadi pelaku ekonomi yang berakar
di desa. kalau boleh bertanya
seberapa sulitnya memberi pemahaman kepada pemerintah tentang ekonomi
rakyat dari Pak Edi yang sering langsung berkaitan dengan pemerintah ?
Bambang Sutrisno (Konsultan Wiratama Amang Husada)
Apa yang disampaikan bapak berdua sangat menarik, saya hanya
ingin memberikan tanggapan bagi Prof. Edi mengenai perubahan pasal 33
karena ini dikupas dalam makalah bapak.
Dari naskah amandemen UUD 45 yang terbaru yang dikemukakan oleh MPR
memang judulnya dirubah yang tadinya kesejahteraan sosial menjadi
perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial (ditambahkan perekonomian
nasional). Itu menurut siapa saya tidak tahu, ada yang berubah dari naskah
yang lama kalau naskah yang lama perekonomian
disusun berdasar atas asas kekeluargaan, dirubah menjadi
perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh
rakyat secara berkelanjutan berdasar atas asas keadilan, efisiensi dan
demokrasi ekonomi untuk mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat. Itu teksnya pada pasal 1 ayat 1, tadinya ada
tiga ayat kemudian, di pasal 1 disetujui menjadi 5 ayat (ditambah 2 ayat)
di mana ayat kedua dan ketiganya juga dirubah, sedangkan ayat keempat
ditambah dari penjelasan UUD 45 "pelaku ekonomi adalah koperasi,
badan usaha milik negara, dalam satu dasar menurut UUD 45", yang
kelima kemudian ditambahkan lagi satu ayat yang bunyinya "penyusunan
dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan
meningkatkan tata lingkungan hidup memperhatikan dan menghargai hak ulayat
serta menjamin kemajuan seluruh wilayah negara". Ini adalah
tambahan-tambahan. Yang pertama saya inginkan yaitu komentar bapak-bapak
berdua terhadap amandemen ini yaitu dari Pak Muby (dulu ahli TAP 1). Kita
ingin mengetahui karena ini menyangkut ideologi kita, asas kekeluargaan
hilang diganti dengan asas efisiensi, keadilan dan demokrasi ekonomi.
Kemudian yang kedua saya ingin menanggapi Prof Edi yang
menyampaikan sebaiknya pasal 33 itu tetap, saya menangkap kalau
pernyataannya demikian kesannya” kok enggak mau berubah”, status
quo. Menurut saya ada kelupaan satu hal dalam pasal 33 ini yaitu
mengenai kewajiban negara dalam perekonomian karena saya melihat bahwa
dalam pasal 33 yang lama itu yang ada hanya hak negara, "negara berhak
menguasai hajat hidup orang banyak, negara berhak mengatur bumi
kekayaan dsb", tetapi tidak ada kewajiban negara dalam
perekonomian. Nah saya kira perlu secara jelas dalam pasal 33 ini diatas
tentang kewajiban negara terhadap rakyatnya terutama pemihakan, jadi
negara itu mestinya tidak boleh netral harus memihak kepada rakyat.
Adiyoga (Pusat P3R-YAE)
Pak Edi saya sempat tergelitik, kebetulan tadi Pak Edi sempat
menyinggung, saya punya keyakinan pribadi perilaku ekonomi itu sangat
dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya. Saya berpikiran begini
kalau pemikiran-pemikiran ekonom
kita pada zaman dahulu berpikir begini dan sekarang berubah, saya menduga
telah terjadi perubahan-perubahan dengan sosial budaya.
Saya curiga, kalau perubahan itu sudah dirancang oleh siapa, saya
juga tidak tahu oleh siapa yang disengaja supaya mindset perilaku ekonom
supaya seperti ini. Kalau kita ingin merubah suatu pola pikir yang ada di
kepala pemikiran para ekonom
kita, termasuk yang membuat kebijakan artinya tugas-tugas orang sosial
juga. Kalau dalam dunia intelejen terdapat kontrak intelejen.
Hal itu saya lempar pada Pak Sajogyo dan Pak Tjondro mumpung
beliau-beliau (sosiolog) ada, bagaimana antara ekonomi dan sosiologi
saling mempengaruhi satu sama lain.
Bambang Ismawan (Bina Swadaya)
Terima kasih, saya sangat terkesan dengan Pak Muby yang
mengatakan akan mendirikan Universitas Mubyarto, saya merasa kok menjadi
urusan pribadi. Dengan
diskusi terakhir ini saya condong supaya bagaimana setelah karya ke-12
kita sudah siap dengan agenda ke depan bukan masing-masing
mempunyai agendanya. Jadi kalau tadi Pak Edi mengatakan apakah kita punya
proyek yang bisa melakukan itu, ya itu sekarang ini menjadi power
bersama. Pak Titus sudah
punya, walau Pak Titus mengatakan hanya berkisar 10 juta penduduk microenterprises,
padahal kita mempunyai 34 juta. Apa
itu agenda bersama saya melihat :
1.
Yang berhubungan dengan perubahan cara mengajar ekonomi, saya rasa
harus ada langkah-langkah bersama, strategi kita apa untuk mencapai itu,
tentu saja Pak Muby dan Pak Edi sebagai motornya, kemudian ada banyak
peraturan atau UUD. Ada UU dan sebagainya seperti di Philipina mereka
mempunyai, yang mengatakan sekitar 36% dari fortopolio kredit di bank
harus di arahkan ke microenterprises,
di Indonesia belum ada itu Pak Harto hanya bill.
Dengan ini kita membutuhkan lobi-lobi ke DPR dan advokasi.
2.
Di samping kurikulum untuk mahasiswa, lobi, advokasi ke pengambil
keputusan, kita harus masuk berbicara ke partai politik mau tidak mau dan
suka tidak suka karena kita tidak bisa menentukan itu, dan merekalah yang
mengambil keputusan.
3.
Hal-hal yang berhubungan dengan empowering
social capital and cultural capital di sektor ekonomi rakyat.
Pak Titus memberikan contoh dari segi financial
capital, social capital baru saja saya dengan Concultation Group for Turish the Power orang Amerika, dia bekerja
dengan banyak negara menawarkan program training dan sebagainya. Kita
memanfaatkan lembaga-lembga yang sudah ada di daerah-daerah, inventarisasi
program-program pemerintah yang sudah dilakukan oleh pemerintah yang tidak
bisa diteruskan, itu harus diteruskan oleh civil
society yaitu lembaga yang sudah ada dan mereka membutuhkan dorongan
dan dukungan.
4.
Agenda yang berhubungan dengan networking
sehingga kita tidak menjadi single
fighter, single fighter-single fighter ini harus kita tampung dalam
suatu kebersamaan sehingga menjadi roh yang menguatkan, Itu dapat
dilakukan dengan prespektif yang menghantarkan kita 5 - 6 tahun ke depan,
kita coba mempengaruhi sidang MPR, kampanye partai-partai politik, tidak
ada cara lain kecuali kita harus bekerja berat semacam itu.
Nah ini teman-teman kita selalu bersama-sama dalam 2 mingguan untuk
mengisi program ini.
Ibu Diah (Pusat P3R-YAE)
Saya menyambung penuturan Pak Adiyoga tentang ekonomi dan
sosial. Sejarah mencatat
mulai adanya gap antara kaya dan
miskin adalah penelitian Geertz di Jawa Timur tentang kemiskinan berbagi.
Saya melihat kalau yang namanya pembangunan atau apalah namanya
selalu menggunakan kata-kata meningkatkan kesejahteraan.
Saya berpikir kalau meningkatkan kesejahteraan berarti akan maximize
maka akan menjadi rakus, kalau misalkan menggunakan kata-kata menurunkan
kemiskian atau kemiskinan berbagi seperti yang dikatakan Geertz tadi itu
mungkin lebih menyambung dengan penuturannya Pak Muby tentang etika dan
sistem ekonomi. Saya melihat
bahwa gap antara kaya dan miskin itu mulai kelihatan ketika masuknya
Belanda yang mengenalkan tentang produksi yang mungkin dalam instilahnya
adalah capital formation.
Sri-Edi Swasono
Sesungguhnya tidak sulit memberikan pemahaman. Yang sulit
adalah karena dia sudah mempunyai janji-janji tertentu yang dia tidak bisa
menghapusnya. Jadi mungkin
secara psikologi it is easy to learn
but it is not easy to unlearn karena not
easy to unlearn tidak bisa mengeluarkan paradigma lama, jadi
"dikandani opo ya terserah gelem" tidak mau mengerti dan ini
terjadi pada level teknik. Kita
juga salah mempelajari teknik-teknik yang bisa membuat mereka mengerti.
Saya menjelaskan kepada suatu forum di AS beberapa hari yang lalu, kita
ini Indonesia kaget, semula kita ekonom besar sekarang ekonom besar mati
(klenger) tidak ada kredit bank yang keluar, pinjaman luar negeri belum
menetes, investasi luar negeri malah negatif "kok iso kukuh",
kita kaget ternyata itu ada inner power dari masyarakat, masyarakat mempunyai
social capital digabung dengan financial
capital yang bisa menumbuhkan, ini harus masuk di dalam variabel
ekonomi pembangunan yang banyak dilupakan.
Jadi kasus di Indonesia harus dibesar-besarkan supaya bisa
mempengaruhi pola pikir, "eh ingat ada kekuatan social capital yang
luar biasa yang ternyata bisa membuat ekonomi kita bisa tumbuh", ada
variabel-variabel fundamental yang mereka kenal economic
fundamental sesungguhnya tidak perlu.
Ternyata ada fundamental baru yang tidak yaitu di-grassroot.
Yang disebut reformasi tidak harus dasar-dasarnya dirubah,
"kok sekarang MPR dikatakan prestasinya konyol-konyol karena tidak
mampu menyelesaikan naskah amandemen".
Saya katakan prestasi tidak diukur dengan merubah naskah amandemen,
bisa mempertahankan naskah yang benar di dalam UU adalah prestasi.
Saya mempertahankan UUD pasal 33 tidak ada hubungannya dengan status
quo, karena saya ingin berprestasi mempertahankan yang benar. Kalau
ada yang possesiv merubah UUD
itu sudah menjadi hobi suka merubah, kalau belum bisa merubah belum merasa
bekerja untuk MPR, seolah-olah tugasnya merubah.
Di AS untuk merubah amandemen satu kalimat dalam satu ayat tujuh
tahun, itu pun harus dibicarakan, disetujui oleh 2/3 dari state.
Di sini dikatakan, UUD bukan pemikiran manusia yang sakral, saya
bilang "di AS UUD sakral, di Inggris konstitusi meskipun tidak
tertulis sangat sakral, dan UUD di Indonesia juga harus sakral dalam hal
tertentu bukan seperti mensakralkan Tuhan".
Sakral dalam artian supaya orang mempunyai semangat untuk to
refer kepada UUD. Pak
Harto kita jatuhkan karena melanggar UUD 45, kita mengepung MPR karena dia
diktator, UUD artinya diktatorisme; kita menjatuhkan Pak Habibie juga
karena Pak Habibie melanggar konstitusi; kita menjatuhkan Gus Dur karena
dia adigung seenaknya sendiri dengan konstitusi dia membubarkan MPR yang
memilih dia, itu melanggar UUD; kita menjatuhkan Bung karno karena dia
dianggap melanggar konstitusi, memang itu tragis, tragedi nasional yang
terjadi di Indonesia. UUD telah melahirkan diktator-diktator, tetapi
diktator-diktator tidak bisa diberantas dengan UUD yang terbarupun, itu
keyakinan saya karena itu adalah political
culture. Jadi menurut saya tidak harus merubah UUD, mempertahankan
saja merupakan prestasi akademik yang luar biasa.
Saya mengajar globalisasi dan globalisasi adalah suatu
skenario yang besar. Orang
yang suka demo di IMF adalah akademis dan dia sudah mengatakan bahwa
globalisasi adalah skenario baru yaitu neoclasisme
dalam wujud baru. Skenario yang sekarang dilakukan adalah tahap akhir dari
skenario yang paling hebat yaitu internasionalisasi asset Indonesia.
Ini dilakukan jelas sekali waktu Rizal Ramli melakukan sekuritasi
dalam keadaan miskin, terdesak begini ditolak oleh IMF dan kita mengikuti
IMF. Ini jelas internasionalisasi asset. Pak Mahatir bilang no
way kita bilang OK. Lihat,
baca LoI, kita biarkan retail itu dikuasai mereka, gimana sih.
Tanggung jawab negara dalam pasal 33 itu besar sekali,
bertanggung jawab dalam mempertahankan kesejahteraan sosial.
Oleh karena itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara
dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kemakmuran
masyarakatlah yang utama bukan kemakmuran orang per orang.
Itu disebut dalam UUD. Asas kekeluargaan itu kalau dalam Islam
namanya ukhuwah rahmatan lila'alamin,
kita saling bersaudara brotherhood bukan kindship.
Jadi tidak ada kaitannya dengan family
relation. Justru yang
saya takutkan adalah menilai adil, dalam
menentukan keadilan itu siapa? Adil adalah konsepsi yang sulit ditentukan,
sebabnya Tuhan pun memberikan kata adil 1000 kali di Qur'an supaya orang
tambah mengerti sedikit-sedikit arti dari adil.
Untuk Anda yang terakhir, yang ditingkatkan kesejahteraan
tentunya kesejahteraan sosial. Indonesia
adalah kesejahteraan sosial, kalau sosial tidak rakus, sosial itu
keseluruhan untuk semuanya. Bahwa
Anda itu lebih suka dengan poverty
allevation itu bagus, karena poverty
allevation sudah menjadi global
keyword sekarang, makanya saya tidak mengerti kok IDT distop.
Penutup (Mubyarto)
Saya kira tujuan yang ada dibenak pada perencana SPER sudah
tercapai pada sesi yang sekarang. Di
dalam 2 sesi yang dulu tidak seramai ini. Saya tambahkan sedikit
pertanyaan dari Adiyoda dan Diah, ekonomi kelembagaan secara tersirat
sekarang ini sedang saya kampanyekan untuk mengganti teori ekonomi
neoklasik. Ekonomi
kelembagaan memang memperhatikan budaya Indonesia, namun demikian belum
dilakukan, karena masih mengajarkan contoh-contoh di AS, itulah yang
salah. Jadi kalau kita mengajarkan teori ekonomi kelembagaan otomatis
secara teori harus diterangkan "begini lho caranya bekerja di
Indonesia". Itu
pengantar buku saya yang kuning dengan tujuan supaya kita bersama-sama
mengembangkan ekonomi kelembagaan.
(*)
|