SEBUAH buku bisa disebut baik jika memenuhi keinginan
masyarakat luas menjawab sesuatu pertanyaan penting yang sudah lama tak
terjawab. Buku The Mistery of Capital ini telah memenuhi kriteria
ini, karena sudah cukup lama orang bertanya-tanya mengapa banyak negara
berkembang (dunia ketiga) yang ingin menerapkan sistem kapitalisme yang
nampak begitu baik dan begitu berhasil di Barat seperti di Amerika Serikat
dan Eropa Barat ternyata “gagal”. Banyak negara miskin bekas jajahan
negara-negara Eropa tidak tahu apakah kegagalan menerapkan kapitalisme
merupakan kesalahan mereka atau memang sistem ekonomi kapitalisme itu pada
dasarnya tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara mereka.
Memang untuk dapat memahami “teka-teki” ini tidak ada
jalan pintas kecuali membaca sendiri dengan sungguh-sungguh seluruh isi
buku termasuk membaca buku de Soto sebelumnya yaitu The Other Path: The
Invisible Revolution in The Third World (Harper & Row, 1989).
Bagi kita di Indonesia buku The Mistery of Capital sangat
relevan terutama sekarang saat krisis moneter (krismon) 1997-98
jelas-jelas membuktikan kegagalan upaya menerapkan kapitalisme oleh
pemerintah Orde Baru sejak 1966. Para penentu kebijakan ekonomi Orde Baru
mengira sistem ekonomi kapitalisme sama dengan sistem demokrasi ekonomi
berdasar atas asas kekeluargaan yang bersumber pada Pancasila. Kesadaran
bahwa sistem kapitalisme liberal tidak sejalan atau bahkan bertentangan
dengan demokrasi ekonomi Pancasila tidak pernah ada sampai menjadi sangat
terlambat pada saat krismon meledak Agustus 1997, 30 tahun sejak mula-mula
diterapkan.
Adalah sangat merisaukan bahwa banyak pakar ekonomi senior
kita tetap tidak percaya tentang
kekeliruan atau ketidak tepatan sistem kapitalisme bagi Indonesia yang
berpaham Pancasila, dan hanya menyalahkan penerapannya saja. Kesilauan
kita terhadap sistem ekonomi kapitalisme mengakibatkan secara langsung
pandangan yang meremehkan peranan ekonomi rakyat yang “tak
ber-kapital”. Ekonomi Rakyat yang lebih banyak mengandalkan pada modal
sendiri dianggap “extra-legal”, bahkan tak diakui eksistensinya.
Saya menganjurkan orang Indonesia membaca buku ini dalam
bahasa aslinya, bahasa Inggris, karena pengalaman saya membaca terjemahan
buku-buku bahasa Inggris sungguh tidak menyenangkan. Banyak teka-teki
tentang kemiskinan di negara kita terungkap dengan membaca buku de Soto.