Resensi Buku

Hernando de Soto, THE MISTERY OF CAPITAL: WHY CAPITALISM TRIUMPHS IN THE WEST AND FAILS EVERYWHERE ELSE, Black Swan, London, 2001

Oleh: Mubyarto

 

SEBUAH buku bisa disebut baik jika memenuhi keinginan masyarakat luas menjawab sesuatu pertanyaan penting yang sudah lama tak terjawab. Buku The Mistery of Capital ini telah memenuhi kriteria ini, karena sudah cukup lama orang bertanya-tanya mengapa banyak negara berkembang (dunia ketiga) yang ingin menerapkan sistem kapitalisme yang nampak begitu baik dan begitu berhasil di Barat seperti di Amerika Serikat dan Eropa Barat ternyata “gagal”. Banyak negara miskin bekas jajahan negara-negara Eropa tidak tahu apakah kegagalan menerapkan kapitalisme merupakan kesalahan mereka atau memang sistem ekonomi kapitalisme itu pada dasarnya tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara mereka.

Memang untuk dapat memahami “teka-teki” ini tidak ada jalan pintas kecuali membaca sendiri dengan sungguh-sungguh seluruh isi buku termasuk membaca buku de Soto sebelumnya yaitu The Other Path: The Invisible Revolution in The Third World (Harper & Row, 1989).

Bagi kita di Indonesia buku The Mistery of Capital sangat relevan terutama sekarang saat krisis moneter (krismon) 1997-98 jelas-jelas membuktikan kegagalan upaya menerapkan kapitalisme oleh pemerintah Orde Baru sejak 1966. Para penentu kebijakan ekonomi Orde Baru mengira sistem ekonomi kapitalisme sama dengan sistem demokrasi ekonomi berdasar atas asas kekeluargaan yang bersumber pada Pancasila. Kesadaran bahwa sistem kapitalisme liberal tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan demokrasi ekonomi Pancasila tidak pernah ada sampai menjadi sangat terlambat pada saat krismon meledak Agustus 1997, 30 tahun sejak mula-mula diterapkan.

Adalah sangat merisaukan bahwa banyak pakar ekonomi senior kita tetap tidak percaya  tentang kekeliruan atau ketidak tepatan sistem kapitalisme bagi Indonesia yang berpaham Pancasila, dan hanya menyalahkan penerapannya saja. Kesilauan kita terhadap sistem ekonomi kapitalisme mengakibatkan secara langsung pandangan yang meremehkan peranan ekonomi rakyat yang “tak ber-kapital”. Ekonomi Rakyat yang lebih banyak mengandalkan pada modal sendiri dianggap “extra-legal”, bahkan tak diakui eksistensinya.

Saya menganjurkan orang Indonesia membaca buku ini dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris, karena pengalaman saya membaca terjemahan buku-buku bahasa Inggris sungguh tidak menyenangkan. Banyak teka-teki tentang kemiskinan di negara kita terungkap dengan membaca buku de Soto.

(*)

 

 

 


Copyright © 2002 www.ekonomirakyat.org
e-mail: redaksi@ekonomirakyat.org dan yae@indo.net.id
web-master: webmaster@ekonomirakyat.org