Resensi Buku

Mubyarto & Daniel W. Bromley, 2002, A DEVELOPMENT ALTERNATIVE FOR INDONESIA, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Indonesia.

Oleh: R.J. Kaptin Adisumarta

 

SUATU PILIHAN LAIN UNTUK PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA
-- Catatan atas buku kecil Prof. Mubyarto dan Prof. Bromley

Pada kesempatan peluncuran 3 buku yang berisi 151 “Komentar Peristiwa Ekonomi” yang saya tulis dari tahun 1965-2000, Prof. Mubyarto memberi buku kecil dengan judul kalau di Indonesiakan seperti di atas.  Karena ingin tahu isinya, dan buku kecil, hanya 50 halaman, biasanya isi banyak, maka malam hari itu juga saya baca sampai selesai.  Di bawah ini beberapa catatan kecil saya.

1.       Perang Istilah: Tumbuh atau kembang

      Bagian pertama tulisan kedua guru besar itu mempersoalkan istilah tumbuh dulu baru kembang atau kembang dulu baru tumbuh.  Kalau saya artikan secara harafiah, berkembang yaitu development. Berasal dari kata lain velum yang berarti kain penutup.  Maka development adalah kain penutupnya dibuka.  Ini kebalikan dari kalau kain penutupnya ditutup, yang diterjemahkan menjadi envelopment, ditutup seperti amplop (envelope).

      Sedangkan tumbuh itu semisal anak bayi tumbuh menjadi balita, menjadi seumur playgroup, menjadi umur masuk TK, masuk SD, dan seterusnya, sampai akhirnya menjadi profesor.  Jadi tumbuh itu tidak merubah esensi dari yang tumbuh.  Seperti bayi Amin tumbuh menjadi Bapak Amin, bayi Tati menjadi Ibu Tati.  Kalau diperhatikan, yang tumbuh itu seluruh 1001 bagian tubuh.  Dari kelingking, telinga, mata dan lainnya.  Semua tumbuh secara berkembang.     Kalau mau disebut pertumbuhan, normal, yang tumbuh tetap Amin dan Tati.  Tidak berubah esensi dari namanya. 

      Lain halnya berkembang sebagai contoh kembang jeruk.  Jauh sebelum terbuka menjadi bunga, putiknya masih terbungkus lembaran penyelubung. Begitu berkembang, lembaran penyelubung terbuka tiap lembar dan putik berkembang terbuka, maka datanglah kumbang. Karena terjadi pembuahan kembang putik menutup lagi, menjadi kering lalu rontok. Tetapi biji buah jeruk tetap berkembang tumbuh menjadi buah jeruk, yang kemudian kalau sudah kuning atau matang dipetik kita makan.

      Contoh lain untuk pengertian perkembangan adalah kupu-kupu bertelor di atas daun.  Telur berkembang menjadi ulat, berkembang lagi menjadi kepompong lalu menjadi kupu.  Ini terjadi metamorfose total.

      Anak tumbuh menjadi manusia, manusia boleh juga disebut berkembang menjadi dewasa.  Telor ulat berkembang menjadi kupu-kupu, tidak boleh disebut tumbuh, harus berkembang.

      Kesimpulan saya tidak mau membuat catatan atau kritik atau komentar atas istilah tumbuh lalu baru berkembang atau berkembang baru tumbuh.  Post hoc, ergo propt et hoc! (sesudah ini, jadi karena ini).

2.       Perdebatan tentang filsafat ilmu okonomi

Kedua penulis mempersoalkan metodologi antara penganut teori ekonomi Neo-klasik yang banyak dianut ahli ekonomi jaman sekarang, terutama negara Amerika Serikat dan lulusan Amerika Serikat pada umumnya. Perdebatan tentang filsafat ekonomi yang berpegang pada tolak ukur pada individu.  Lawannya adalah yang berpegang tolak ukur lembaga masyarakat. Menurut saya terlalu steril untuk diperdebatkan.  Ujung-ujungnya kedua kubu harus menjawab pertanyaan, “Berhasilkah Anda memperbaiki kemakmuran rakyat?”

      Jawaban atas pertanyaan tersebut, didahului dengan pertanyaan balik.  Misalnya, “Makmur itu apa?  Banyak duit, atau banyak rejeki?”  Dalam konteks Indonesia banyak rejeki jauh lebih baik dari pada sekedar duit.

      Pertanyaan kedua, “Apa yang disebut masyarakat? Apakah itu orang kota, orang pedesaan, orang udik atau orang pedalaman ataukah pukul rata saja?”  Kita salah kalau pukul rata saja antara orang kota dengan orang udik.  Lebih-lebih halnya kita menyampaikan istilah perkapita sekian $, APBN sekian persen GNP. Karena istilah-istilah itu di dalam kenyataannya tidak ada. Istilah-istilah itu sekedar untuk menyederhanakan masalah-masalah yang kompleks menjadi satu pengertian saja.  Dalam contoh saya si Amin dan si Tati.  Untuk mudahnya kita menyebutkan Amin beratnya 45 kg, sedangkan Tati beratnya 30 kg. Apakah kita perlu memberitahu berat kakinya berapa, berat kepalanya berapa. Tentunya tidak.

      Kesimpulannya adalah bahwa  saya tidak tertarik pada diskusi tentang metodologi dari teori ekonomi yang dipersoalkan kedua Profesor tersebut, yang ujung-ujungnya sama yaitu bagaimana kalau kemakmuran masyarakat tambah atau tidak.

3.       Istilah ekonomi Pancasila

      Saya mengerti bahwa filsafat hidup Pancasila yaitu menjujung tinggi etika, demokrasi, keadilan, kemakmuran serta kebangsaan, yang menyatakan cita-cita dari bangsa Indonesia.  Yang menjadi keprihatinan saya, cita-cita itu kita cantelkan setinggi bintang di langit.  Padahal kita sedang berjalan di lumpur dan kubangan. Bukankah laksana burung bangau, cita-cita Pancasila ujung-ujungnya hinggap di kubangan juga. Artinya kita tidak bisa cuci kaki atau tangan dan menyatakan inilah ekonomi Pancasila.  Saya lebih senang menyebut ekonomi Indonesia dan bukan ekonomi Pancasila. Karena pengertian Indonesia  lebih luas dan mencakup 1001 masalah dari pada sekedar  falsafah bangsa.

      Sebagai contoh adalah persaingan antar perusahaan di jaman liberal yang ujung-ujungnya persaingan saling bunuh, saling gorok. Tetapi dalam perkembangan realistik di Indonesia dan pada masyarakat yang lain, telah berubah menjadi lebih bekerjasama daripada saling gorok atau saling bunuh.

      Bahasa Indonesianya better to cooperate than to atau asosiasi lebih menguntungkan dari kolusi. Pelajaran teori manajemen yang memakai war of games mengajarkan bahwa solusi terbaik adalah damai. Istilah terbaik didapat dengan sistem loss and profit, cost and benefit, momentum and opportunities. Jadi hitung punya hitung sesuai cara liberal, cara neo-klasik, cara Ricardo, hasilnya sama, yaitu damai saja sesudah tumbuh, maju bersama.    

4.       Saya lebih tertarik menjawab pertanyaan yang dilontarkan beberapa wartawan muda kepada saya, pada kesempatan yang sama. Yaitu “Apa saran Bapak Kaptin pada pemerintah  sekarang?” Saya jawab, “Tidak ada! Silakan bekerja sendiri.  Tetapi saran saya tujukan kepada masyarakat di kota maupun di daerah-daerah.  Yaitu coba perhatikan mengapa ekonomi kita sampai sekarang tidak mati? Padahal tidak ada modal asing, tidak ada kelompok Jimbaran, tidak ada konglomerat, banyak pabrik tutup”.

      Saya bertanya, “Mengapa tidak ada desa yang gulung tikar ekonominya?  Kenyataannya adalah sebaliknya.  Warung selalu bertambah, toko kecil selalu bertambah, kendaraan angkot selalu bertambah.  Darimana warung, toko kecil, angkot hidup kalau tidak ada konsumen kecil, bukan turis asing, bukan orang gedean dari kota.  Kalau Saudara perhatikan sepanjang jalan Ciawi sampai Cianjur sudah berapa ribu toko kecil, berapa ribu orang yang jualan minuman seperti aqua, cola-cola, sprite maupun  makanan kecil seperti roti,  maupun sunvenir lainnya?  Mengapa tidak ada yang tutup gulung tikar, bahkan bertambah menjamur. Siapa konsumennya, darimana daya belinya. Kesimpulan saya masyarakat Indonesia tingkat bawah, pedalaman setidaknya diluar Pulau Jawa memiliki kemampuan belanja konsumsi dari hasil simpanannya”.

      Simpanan-simpanan orang kota dari masa lampau ini dicairkan dalam bentuk pembangunan rumah peristirahatan dengan akibat dana mengalir dari kota ke desa. Efek multiplier begitu menghasilkan penghasilan berganda di pedalaman. Karena sifat orang kecil hanya menabung kecil sisanya dibelanjakan untuk kebutuhan. Berkat tambahan kemakmuran di lapisan bawah ini, perdagangan kecil seperti warung, toko kecil, penjual minuman dan makanan kecil berkembang terus, mendorong mobilitas penduduk menjadi lebih tinggi.  Dari depan rumah naik omprengan, dari pasar pulang naik angkot. Dari kota Kabupaten ke kota Kabupaten lainnya naik omprengan. Dari kota propinsi ke kota propinsi lainnya naik kendaraan bis, yang sekarang membuat jalan besar antara setiap kota. Darimanakah segala prediksi tersebut muncul untuk saya, saya tidak peduli disebut pertumbuhan ataukah perkembangan.  Yang pasti tidak mungkin berkembang tanpa tumbuh dari dalam dan setiap pertumbuhan pasti menghasilkan perkembangan.

      Saya mengucapkan banyak terimakasih atas kesempatan boleh memberi komentar, dan membawa pertimbangan saya atas tulisan  Prof. Mubyarto, adik kelas, dan Prof. Bromley, yang turut memikirkan dan membantu perkembangan dan pertumbuhan Indonesia.  Saya akan senang dan terhormat bilamana catatan saya ini, dapat Saudara publikasikan apalagi diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

 

Jakarta, 16 Agustus 2003.

Drs. R.J. Kaptin Adisumarta


Data Buku
Judul Buku :
A Development Alternative for Indonesia
Penulis : Mubyarto & Daniel W. Bromley
Penerbit : Gadjah Mada University Press
Cetakan : Pertama, Agustus 2002
Tebal : xiii + 52 halaman

 


Drs. R.J. Kaptin Adisumarta, ekonom

 

 

 


Copyright © 2002 www.ekonomirakyat.org
e-mail: redaksi@ekonomirakyat.org dan yae@indo.net.id
web-master: webmaster@ekonomirakyat.org