Resensi Buku
 |
Joseph
E Stiglitz, 2002, GLOBALIZATION AND ITS DISCONTENTS, W.W.
Norton&Co, New York
Oleh: Mubyarto
|
Sejak menerima
hadiah Nobel dalam ilmu ekonomi tahun 2001 nama Jo Stiglitz berkibar di
seluruh dunia, meskipun sebelumnya bukan pakar yang tak dikenal, karena
pernah 7 tahun menjadi anggota kabinet Clinton dan wakil presiden (senior)
dan pakar ekonomi utama Bank Dunia. Sebelum bergabung dengan pemerintah
dan Bank Dunia, Stiglitz adalah Guru Besar ilmu ekonomi di Stanford dan
kini di Columbia.
Disamping buku
"Globalisasi dan Mereka yang tidak puas" ini, dua buku lain
perlu disebut sekaligus yaitu kumpulan tulisan yang diedit Ha-Joon Chang
berjudul lebih galak yaitu Pemberontak dari Dalam (The Rebel Within) dan
Batas2 Pembangunan (Frontiers of Economics) diedit bersama Gerald M.Meier,
keduanya terbit tahun 2001. Ketiga buku dalam kesatuan khususnya dilihat
dari kacamata ekonom (arus utama adalah buku2 "aneh" yang
"menentang arus" seperti buku2 Gunnar Myrdal dan John Kennneth
Golbraith tahun enampuluhan dan tujuhpuluhan.
Dengan bahasa yang
relatif sederhana Stiglitz sejak kata pengantar bukunya sudah menyerang
habis2an (landasan pikir kebijakan2 pemerintah Amerika, Bank Dunia, dan
terutama IMF, yang keputusan2nya sering didasarkan pada ideologi dan
politik, bukan pada fakta2 dan bukti2 ilmiah:
....,, when
academics involved in making policy recommendations (they) become
politized an start to bend the evidence to fit the ideas of those in
charge (hal. x).
Menurut Stiglitz
sebenarnya globalisasi dapat, atau berpotensi, memperkaya setiap orang di
dunia khususnya penduduk miskin. Tetapi untuk mencapai tujuan itu caranya
harus diubah secara radikal. Jika tidak diubah secara sungguh2 radikal
maka dampak negatifnya sangat mengerikan terutama bagi si miskin.
Tentang ilmu ekonomi dan
manfaat atau sumbangannya bagi pembangunan negara2 berkembang Stiglitz
juga mempunyai kritik keras:
Economics
may seem like a dry, esoteric subject but, in fact, good economic
policies have the power to change the lives of these poor people. I
believe governments need to-and can adopt policies that help countries
grow but that also ensure that growth is shared more equitably (hal.
xi).
Kritik2nya pada IMF
memang sangat telak dan pemerintah Amerika, khususnya Departemen
Keuangannya, dianggap tidak konsekuen karena bersifat tertutup (tidak
transparan) padahal menggembar-gemborkan perlunya transparansi. Banyak
putusan2 IMF yang dianggapnya tidak transparan:
Decision
were made on the basis of what seemed a curious blend of ideology and
bad economics, dogma that sometimes seemed to be thinly veiling
special
interest... ideology guided policy prescription and countries were
expected to follows the IMF guidelines without debate.
What
astounded me, however, was that those policies weren't questioned by
many of the people in power in the IMF, by those who were making the
critical decisions. They were questioned by people in the developing
countries, but many were so afraid they might lose IMF funding.
Demikian jika di
Indonesia ada (atau banyak) suara2 kritis terhadap bantuan IMF, sebenarnya
pemerintah harus mendengarnya, karena kritik2 yang mengkhawatirkan bahaya
dari bantuan2 ini bisa benar, dan ternyata sama dan didukung pakar ekonomi
raksasa dari Amerika penerima hadiah Nobel.
(*)
|