Resensi Buku
 |
Mubyarto &
Daniel W. Bromley, 2002, A DEVELOPMENT
ALTERNATIVE FOR INDONESIA, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta,
Indonesia.
Oleh: Bagus Santoso dan Nadia Kusuma Dewi
|
Buku berjudul
A Development Alternative for Indonesia karya Profesor Mubyarto dan
Profesor Bromley ini, sebagaimana judulnya, mencoba menawarkan alternatif
strategi pembangunan Indonesia. Resep yang mereka tawarkan diharapkan
dapat membawa perubahan ke depan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia,
mengingat bangsa Indonesia telah gagal menerapkan sistem ekonomi yang
sesuai untuk membangun Indonesia.
Bagian awal buku ini mengulas
tentang tantangan pembangunan. Pengalaman pembangunan di banyak negara
dewasa ini menunjukkan, bahwa terdapat pertentangan antara gagasan dan
praktek pembangunan ekonomi. Gagasan pembangunan kontemporer berpendirian,
bahwa globalisasi akan selalu memberikan efek positif yang menguntungkan.
Pada prakteknya itu tidak selalu terjadi. Krisis finansial yang melanda
Asia Timur dan Asia Tenggara merupakan contoh ekses negatif globalisasi.
Globalisasi dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai tidak selalu
diikuti pemerataan dan keadilan sosial.
Pertumbuhan
ekonomi Indonesia selama tiga dekade terakhir diakui telah banyak
memberikan kemajuan materiil, tetapi mengandung dua masalah serius. Pertama,
perekonomian Indonesia masih sangat rentan terhadap kondisi eksternal dan
volatilitas pasar finansial dan komoditas. Kedua, kemajuan ekonomi
yang telah dicapai ternyata sangat tidak merata, baik antardaerah maupun
antar kelompok sosial ekonomi. Kemajuan materiil yang telah dicapai
melalui strategi pertumbuhan selama 30 tahun terakhir ini tidak banyak
memberikan sumbangan yang sesungguhnya terhadap “pembangunan”.
Hal
ini selanjutnya membawa kita pada dilema pokok dalam gagasan pembangunan,
yaitu adanya perdebatan di antara para pakar tentang strategi yang
seharusnya didahulukan, antara pertumbuhan dan pembangunan. Kelompok
pertama menyatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi harus didahulukan untuk
mencapai tujuan-tujuan lain dalam pembangunan. Kelompok lainnya
berpendapat, bahwa bertolak dari tujuan yang sebenarnya ingin dicapai,
maka aktivitas yang berkaitan langsung dengan masalah pembangunan itulah
yang seharusnya didahulukan, sehingga tercapai pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan. Perdebatan ini menarik untuk diikuti karena masing-masing
kelompok berpendapat dengan argumen yang kuat.
Profesor
Mubyarto dan Profesor Bromley dalam buku ini juga membahas gagasan baru
dalam pembangunan, yaitu tentang pentingnya peran kelembagaan dalam
pembangunan. Selama aspek kelembagaan belum diperhatikan dengan baik, maka
akan sulit untuk merumuskan dan melaksanakan aktivitas pembangunan yang
mendukung terwujudnya pemerataan sosial, pengurangan kemiskinan, dan
usaha-usaha peningkatan kualitas hidup lainnya. Aspek kelembagaan ini
berperan penting dalam meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat,
khususnya masyarakat miskin, dalam memanfaatkan kesempatan ekonomi yang
ada. Inovasi dalam kebijakan publik semacam ini akan senantiasa memberikan
perhatian terhadap tiga hal penting, yaitu etika,
hukum, dan ilmu ekonomi.
Etika
menekankan pada persepsi kolektif tentang sesuatu yang dianggap baik dan
adil, untuk masa kini maupun mendatang. Hukum menekankan pada penerapan
kekuatan kolektif untuk melaksanakan ethical
consensus yang telah disepakati. Sementara itu, ilmu ekonomi
menekankan pada perhitungan untung rugi yang didasarkan pada etika dan
landasan hukum suatu negara.
Bagian
lain dari buku ini mengkaji pentingnya penerapan konsep-konsep ekonomi
yang tepat untuk ekonomi Indonesia. Banyak ekonom Indonesia yang berkiblat
pada teori ekonomi neoklasik tanpa mempertimbangkan sesuai tidaknya teori
tersebut untuk dikembangkan dan diterapkan pada kebijakan ekonomi
Indonesia. Proponen paham ini mengambil konsep-konsep ekonomi neoklasik
secara murni, yaitu dengan mengedepankan metode deduktif dan menganggap
ilmu ekonomi sebagai ilmu positif yang dapat diterapkan secara umum di
mana saja, tanpa mempertimbangkan perbedaan nilai-nilai kultural dan
sosial suatu bangsa (value free).
Berkaitan
dengan hal ini, penulis buku melihat pentingnya Ekonomi Pancasila sebagai
fondasi moral kebijakan pembangunan Indonesia. Yang ironis, Pancasila
sebagai prinsip etika ditolak oleh ekonom neoklasik serta dianggap tidak
relevan dan tidak konsisten dengan ilmu ekonomi barat yang “value-free”. Seolah-olah Ekonomi Pancasila tidak dapat memberikan
sumbangan pada perkembangan ekonomi modern. Akibatnya, konsep ilmu ekonomi
impor yang cenderung menekankan pada liberalisme, individualisme, dan
memandang uang sebagai segala-galanya, lebih dikenal luas dan dianggap
cocok untuk diterapkan pada perekonomian Indonesia.
Mengubah
pandangan para ekonom yang sudah terlanjur fanatik terhadap konsep-konsep
tersebut tidaklah mudah. Salah satu yang dapat dilakukan pada saat ini
adalah mengubah isi dan metoda pengajaran ilmu ekonomi di Indonesia. Pengajaran ilmu ekonomi hendaknya tidak terlalu mengarah
kepada ilmu ekonomi Barat (American
economics textbooks). Teori-teori yang diajukan harus disesuaikan
dengan situasi di Indonesia melalui empirical
inductive methodology.
Bagian
akhir buku ini mengulas Ekonomi Pancasila sebagai landasan strategi
pembangunan Indonesia. Bertolak dari pengalaman kegagalan perekonomian
Indonesia melaksanakan dua sistem ekonomi terdahulu (yaitu Sistem Ekonomi
Terpusat pada periode 1959-1960 dan Sistem Kapitalis Liberal dengan teori
Neoklasik yang tidak terkendalikan pada periode 1966-1997), maka Ekonomi
Pancasila menawarkan arahan baru bagi perekonomian Indonesia.
Pancasila
mengandung tekad bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia melalui ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
kemanusiaan sebagai dasar-dasar etika (ethical
foundation) serta nasionalisme dan demokrasi sebagai pedoman/metode
kerja idealnya (guiding ideals).
Aspek-aspek penting yang terdapat dalam Ekonomi Pancasila antara lain
adalah partisipasi dan demokrasi ekonomi, pembangunan daerah (bukan
pembangunan di daerah), nasionalisme ekonomi, dan pendekatan
multidisipliner terhadap pembangunan.
Partisipasi
diartikan sebagai keikutsertaan seluruh rakyat Indonesia dalam mewujudkan
cita-cita demokrasi ekonomi yang terkandung dalam Pasal 33 UUD 1945
sementara demokrasi ekonomi itu sendiri berarti bahwa produksi dilakukan
oleh semua untuk mencapai keuntungan semua di bawah kepemimpinan dan
pengawasan semua anggota masyarakat.
Pembangunan ekonomi Indonesia yang
direncanakan, diatur, dan dikendalikan
secara terpusat merupakan serangkaian kegiatan “pembangunan di
daerah”, bukan “pembangunan daerah”. Dalam hal ini daerah hanya
mendapat alokasi dana untuk menjalankan program nasional yang ada di
daerah tersebut. Proses seperti itu seringkali tidak didasarkan pada
aspirasi penduduk daerah setempat.
Nasionalisme
ekonomi di Indonesia sempat muncul sekitar tahun 1960-an. Saat itu
Indonesia bertekad untuk memajukan perekonomiannya dengan modal dan
kekuatannya sendiri. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan keluarnya
Indonesia dari PBB dan organisasi keuangan internasional (IMF dan Bank
Dunia). Namun hal ini tidak bertahan lama. Tahun 1980-an hingga kini
perekonomian Indonesia sangat dipengaruhi oleh paham kebijakan liberal dan
global. Pengambil kebijakan masih memandang urgensi modal dana dari luar
negeri untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan menghasilkan pertumbuhan
ekonomi serta menjalankan pembangunan bagi masyarakat banyak. Kebijakan
liberalisasi berlebihan ini telah memicu isu nasionalisme ekonomi, seperti
misalnya aksi penolakan privatisasi BUMN dan penjualan aset nasional
kepada pihak asing.
Secara
keseluruhan buku ini menawarkan wacana yang sangat menarik. Observasi
langsung cenderung mengkonfirmasi bahwa pembangunan ekonomi Indonesia
selama ini masih banyak berpedoman pada konsep-konsep ekonomi barat yang
belum tentu sesuai dengan kondisi kultural, etika, sosial, dan politik
yang ada di Indonesia. Ajaran teori-teori ekonomi neoklasik seolah-olah
telah diangap sebagai agama (Nelson, 2001). IMF sebagai proponen ideologi
tersebut telah memaksakan resep kebijakan berideologi neoklasik ke dalam
dokumen Letter of Intent (LoI) Indonesia. Setelah lima tahun
pelaksanaan LoI, ekonomi Indonesia belum menunjukkan titik cerah.
Setidaknya observasi ini memberikan petunjuk bahwa konsep berpaham
neoklasik tidak selamanya ampuh.
Observasi
tersebut juga mengarah pada pentingnya aspek-aspek kelembagaan
yang berkembang di Indonesia. Pakar ekonomi pembangunan, misalnya
Todaro (2001), juga mengulas pentingnya aspek budaya lokal dalam
proses pembangunan. Gagasan Profesor Mubyarto mengenai Ekonomi
Pancasila dalam buku ini menawarkan revitalisasi moral ekonomi Indonesia.
Jelas ini bukan dimaksudkan sebagai alternatif “agama” baru. Namun,
gagasan Ekonomi Pancasila tersebut saat ini masih berada dalam tataran
etika, moral, ide, dan ideologi. Untuk itu perlu dilakukan usaha-usaha
lebih lanjut yang memungkinkan Ekonomi Pancasila menjadi
practicable dan menjadi landasan moral pengambilan kebijakan.
Pembangunan tidak hanya berfokus pada terciptanya pertumbuhan ekonomi yang
tinggi, tetapi juga pada terwujudnya kualitas hidup yang lebih baik,
pemerataan, dan keadilan sosial. Pembangunan harus menempatkan kepentingan
rakyat banyak pada urutan pertama.
Data Buku
Judul Buku : A Development
Alternative for Indonesia
Penulis : Mubyarto &
Daniel W. Bromley
Penerbit : Gadjah Mada
University Press
Cetakan : Pertama, Agustus
2002
Tebal : xiii + 52 halaman
Dr.
Bagus Santoso, staf pengajar dan peneliti Fakultas Ekonomi Universitas
Gadjah Mada. Lulus Sarjana pada tahun 1988 dari FE-UGM, menyelesaikan
program Master of Social Science di University of Birmingham United
Kingdom pada tahun 1992, dan memperoleh gelar S3 dari University of
Birmingham United Kingdom pada tahun 2001.
Minat profesional: ekonometrika, keuangan internasional, ekonomi
makro, dan ekonomi pembangunan.
Nadia
Kusuma Dewi, SE, lulus Sarjana pada tahun 2002
dari FE-UGM.
Minat profesional: ekonomi pembangunan, ekonomi
mikro, dan ekonomi makro.
DAFTAR
PUSTAKA
Mubyarto dan Daniel W. Bromley, 2002. Ilmu Ekonomi Dan Pembangunan
Indonesia (A Development Manifesto forIndonesia). Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia, Vol.17, No.1, 1-12
Nelson, Robert H, 2001. Economics
as Religion. University Park, Pennsylvania State University.
Todaro, M.P., 1997. Economic
Development. Sixth Edition. Massachusetts : Addison Wesley Longman.
Welch, Carol, 2000. Panduan
Mengenai IMF. Jakarta : INFID
|